Berharap Kesetiaan????Percayalah Padanya (Rumus Pribadi:Belum Tentu Benar)

Kesetiaan??

Akhir-akhir ini banyak sekali teman, sahabat, dan saudara saya mengalami masalah dengan pasangannya entah itu pacar, istri atau suami, karena saling tidak percaya, di duakan, menduakan, ya semacam itu lah. Dan sepertinya, dari dulu saya yang identik dengan “Lola” alias loading lambat lama ‘ngeh’ nya ini jadi tempat meluangkan uneg-uneg. Mungkin justru karena mereka nyaman cerita kepada pendengar yang “lola”.hehe. Tentu saja saya bukan psikolog atau ahli cinta yang bisa memberikan jalan keluar. Saya hanya cukup sebagai pendengar yang baik saja, yang mendukung apapun keputusan mereka. Mau ngasih nasehat, takut kesannya saya nanti malah di bilang sok bijaksana-bijaksini, dan memang saya paham benar, saya hanya dibutuhkan untuk mendengar.titik. tidak lebih.

Kalau menurut saya pribadi, kebanyakan masalah mereka itu bermula karena tidak adanya saling kepercayaan. Terlalu menaruh curiga, dan mengekang pasangan, makanya lama-lama si pasangan menjadi tak nyaman. Adakalanya sebenarnya pasangannya itu ga ngapa-ngapain, hanya berteman dengan teman yang kebetulan lawan jenis, lalu karena di tuduh macam-macam, ya jadi marah dan memang kemudian macam-macam beneran.

Sedangkan saya sendiri??Alhamdulillah, selama ini masih lurus-lurus saja, saya ga mau sesumbar mengatakan saya atau mas saya setia, yang jelas saya belum pernah dikecewakan tentang masalah kesetiaan ini olehnya.
9 atau 10 tahunan yang lalu, kami sudah bersama, ya sejak jaman monyet makan pisang, berbaju seragam biru putih. Saya sendiri tak pernah menyangka kalau kita akan bertahan selama ini, dan mungkin bisa dikatakan dia lah satu-satu nya pria ''resmi'' dalam hidup saya sampai saat ini.

Saya memang bukan orang pencemburu, atau mengekang pacar. Saya tetap fine jika pacar punya teman cewek, wajarlah saya pun juga begitu. Jadi ga pernah ada masalah seandainya mas telfon dan bilang ''dek, aku mau nonton sama si ini ya atau mau jalan-jalan sama si itu ya''. Memang dia jauh dengan saya, jadi beruntunglah pacar punya banyak teman, biar dia ga bosan mati gaya saat week end.

Pernah suatu hari, saya main HP nya, tentu saja dengan seijin dia, karena saya bukan pacar yang tak tau etika. Bagaimanapun bagi saya, hp dia ya privacy dia. Saya menemukan sms yang banyak dari temannya, teman mas ini cowok yang kebetulan adalah seniornya dan bermaksud mengenalkan mas dengan adeknya. Cewek yg mau dikenalkan ini di Jakarta, jadi sewilayah lah sama domisili mas saat ini.

Sms :''bi, adek sepupu gw ada rasa sama lo nih''
Mas : adek sepupu yg mana Bang? emg pernah ketemu ya
Sms : iya, ketemu loe pas di acara nikahanku, katanya sempat kenalan sama kamu dan terus dia nunjuk foto mu,
Mas : oh gt ya bang, tapi maaf bang, saya menghargai yang sudah ada. Salam hormat untuk abang dan keluarga

herannya sudah di balas begitu kok ya masih aja si abang itu masih ngotot, ya ga salah juga sih si teman mas itu, bukannya ada pepatah, selama janur kuning belum melengkung, boleh-boleh saja usaha.

Sms : ga loe coba aja bi, barang bagus ini, dia anak kedokteran UI pula, lagian cewek loe jauh disana, sapa tau loe jadi berubah pikiran. Jangan sok terikat gitu lah
Mas : maaf ya bang, saya benar-benar menghargai yang sudah ada, masalah hati nih bang..hehe..saya futsal dulu ya bang, ditunggu teman nih

Wah, lega saya melihat jawaban Mas, syukur Alhamdulillah ternyata dia masih menghargai saya dan hubungan kami. Dan berani berkata tidak pada temannya.

Selain sms-sms seperti itu, sms dari cewek juga buayak *gubrakk (hanya bisa menabahkan hati). Saya heran sendiri, kalau dulu jaman SMP, SMA mungkin masuk akal. Saat itu mas masih tampan, lucu, imut, menggemaskan, murah senyum sepaten afgan (alay yak:p) dengan penampilan modis rambut jabrix. Nah sekarang, dia kan sudah cepak hampir seplontos boboho, cokelat,item dan ada kadar sangar nya, saya aja ga berani mengatakan dia ganteng..hehe, tapi para cewek yang dimata saya cantik-cantik bahkan ga kalah sama artis Chelsea Olivia dan Asmirandah masih aja ngejar.

Para cewek itu dengan segudang alasan, minta ditemani beli buku lah, nonton lah, renang bareng lah, fitness lah, ke undangan bareng, dll. Alhamdulillah sekali lagi ,balasan sms nya cukup melegakan, tidak menyakiti saya dan saya rasa juga tidak menyakiti cewek-cewek cantik itu. Karena saya juga ga akan suka kalau melihat pacar saya bicara atau sms kasar dengan siapapun, apalagi cewek. Saya rasa balasannya cukup sopan, tapi lugas menolak.

Bagaimana dengan jejaring sosial? lagi-lagi banyak wall dan message yang ga jauh-jauh dari sms tadi. Di dominasi kenalan dan ajakan kencan. Kalau sudah begini masa saya mau nangis gulung-gulung, buang-buang energy lah. Lebih baik selalu berpikir positif dan percaya penuh, karena itu akan membuat hati lebih tenang, hubungan lebih santai dan mengalir apa adanya. Kalau saya menanggapi dengan emosi pasti ceritanya akan sama dengan para sahabat dan saudara saya yang lagi penuh masalah itu. Jadi bagi saya dia masih pantas di percaya.

Menekan Biaya Pernikahan

Terinspirasi dari tulisan Mbak saya yang cantik, kompasioner aktif nunjauh di negeri Arab sana, Mbak Moona F. Gaahtani tentang perbandingan menikah di rumah atau di gedung. Saya jadi ingin menulis juga tetek bengek dan umba rampe sebelum menikah.

Sebenarnya, saya adalah orang yang simple, tidak suka menguras energi memikirkan hal-hal yang di luar esensi. Lebih baik memikirkan dan merencanakan kualitas hidup setelah menikah. Apakah kita akan menjadi manusia yang lebih baik setelah itu? Mampukan mengemban amanah menjadi seorang istri? Dan apakah bisa menjadi ibu yang bertanggung jawab.

Menikah, pada dasarnya adalah proses memenuhi janji antara pria dan wanita untuk berkeluarga secara sah dan halal.

Jadi, hal terpenting dari pernikahan adalah akad nikah, tentu saja. Bagi saya pribadi alangkah enak dan nyamannya kalau setelah akad selesai. Titik. Tinggal fokus membangun rumah tangga.
Tetapi saya juga sadar tidak bisa egois begitu. Bagaimanapun pernikahan tak menjadi hajat kami saja, tapi juga orang tua dan mertua. Pernikahan tak cukup dengan akad nikah saja, tapi juga disertai sederetan tradisi dan resepsi. Apalagi saya dan mas sama-sama wong Jowo tulen, yang acara tradisinya jauh lebih banyak daripada acara inti.

Sejak awal kami memang commit tidak mau membebani orang tua dengan biaya pernikahan. Oleh karena itu, kami tidak segera menikah setelah lulus, perlu waktu hampir 2 tahun untuk mengencangkan ikat pinggang dan menabung biaya. Dan, ironis, tabungan itu hampir tidak jadi terpakai karena awal 2011 ini, hubungan kami berdua malah bermasalah dan sempat break. Tapi, Alhamdulillah setelah sama-sama punya kesadaran menyelesaikan konflik, keputusan mas adalah segera menikah saja. Dengan tabungan seadanya itu.

Dan benar sekali menurut orang - orang. Menikah jaman sekarang cukup memakan biaya. Uang yang dikumpulkan dari kerja keras tahunan itu rasanya semakin menipis dan menipis :D. Padahal, dalam prakteknya kami tak benar-benar mandiri 100 %. Orang tua dan calon mertua adalah para orang tua yang baik, yang tidak tega melepas kami begitu saja. Tetap saja kami dibantu dalam banyak hal, karena kalau ditolak, mereka justru tersinggung.

Padahal persiapan kami selama sebulan ini baru yang pokok-pokok saja, belum tetek bengek lainnya. Baru pesan gedung, undangan, baju, souvenir, catering , koordinator upacara jawa dan tata rias, dekorasi dan tata letak serta baju seragam keluarga besar. Hal-hal seperti hiburan dan lain-lain masih belum.
Saya berusaha mengandalkan jasa dari rekan, kenalan atau sahabat, supaya dapat yang kualitasnya tidak mengecewakan tapi harganya juga ga mahal. Sayangnya, tetep aja bagi saya mahal.hikshiks

Saya jadi ingat, tahun lalu di kantor saya ada kasus. Seorang pegawai yang terkenal loyal dan jujur terlibat penggelapan dana dan manipulasi data sehingga merugikan perusahaan. Usut punya usut, ternyata beliau melakukan itu untuk menikahkan putri tunggalnya yang masih semester 1, tapi karena satu dan lain hal harus segera dinikahkan. Akibatnya si bapak yang awalnya tak punya persiapan, rela melakukan penggelapan dana untuk membiayai pernikahan putrinya secara pantas. Kebetulan karena perusahaan tidak mau ribut, dan cukup menghargai kinerja karyawan selama ini, maka masalah cukup diselesaikan secara internal. Alhasil, si bapak itu harus menjual mobil mewahnya untuk mengganti dan harus rela turun jabatan.
Maka dari itu, calon mempelai usahakan merencakan sebaik mungkin. Jangan terlalu mendadak dan jangan membebani orang tua. Kasihan.

Demi memangkas biaya, kami sengaja tidak memakai WO, semuanya kami urus sendiri. Sebenarnya banyakan saya sih (bukan :kami ), karena kebetulan mas kerja di kota lain, meski akhir-akhir ini sering ngalahi ke Malang pas libur untuk membantu saya. Begitu juga bapak ibu saya malah baru dipindah ke kota lain dan meninggalkan saya mempersiapkan ini semua seorang diri di malang..hiks..hiks (alay yakk saya), dan keluarga mertua juga stay nya di Jateng. Jadi otomatis saya lah yang paling banyak capek :D, karena sudah diputuskan bersama, acaranya di Malang saja mengingat keluarga besar ortu di sini semua, begitu juga mertua pernah dinas dan lama jadi warga Jatim, jadi kerabatnya juga banyak yang di Jatim.

Saya yang pada dasarnya ga mau ribet, mau tak mau juga jadi capek tenaga dan korban waktu karena kesibukan baru ini. Jika dulu pulang kerja bisa tinggal tidur (karena saya seperti bayi, bisa tidur sorean dan ga bangun sampai pagi..hihi), sekarang ada saja yang diurusi. Meski, ya saya tetap meminta pendapat ini itu dengan mas dan orang tua, tapi orang tipe mas saya jawabannya akan selalu sama '' ya terserah adek deh, bagusnya yang mana, atau dirunding sama ibu'' whoalahh, wkwk. Ada ya cowok seapatis itu, bagi dia menikah itu persiapannya hanya mental, membaca buku pernikahan, buku membangun keluarga , buku menjadi orang tua yang baik (nyambung ga seh), dan menyokong alias sumber utama mencari biaya :p. Pokoknya tinggal duduk manis tau jadi.

Satu lagi, biaya yang saya pangkas adalah foto pra nikah, entah mengapa kami kok tidak tertarik melakukannya. Lebih baik memasang beberapa foto lucu saya dan mas sepanjang pacaran, bahkan beberapa foto masih pakai seragam SMP dan SMA, foto gila dan cupu abege labil , masih imut dan kelihatan lugu kalau dipasang.

Gedung, kami bukan memilih yang hotel berbintang, karena saya tak mau memaksakan diri dan mengada-adakan tapi malah menyusahkan diri sendiri setelah itu. Cukup memakai Dome salah satu universitas saja, biar dekat rumah, apalagi dapat harga khusus berkat pakde saya. Awalnya mau memakai Taman Krida, tapi ternyata karena ga ada diskon seperti Dome, harganya lebih mahal, dan space nya tidak seluas Dome. Meski konsekuensinya biaya dekorasi jadi agak melambung, yang penting tamu nyaman, tidak berdesakan kekurangan oksigen.

Catering, memilih yang masih ada hubungan kerabat. Undangan, pesan di tetangga mertua, karena harganya lebih murah ternyata. Souvenir, kebetulan sudah, pesan di kerabat juga. Untuk dekorasi dan tata letak, teman saya ada yang orang tua nya memiliki usaha ini. Jadi harganya harga miring semua, harga persaudaraan dan persahabatan. Sejauh ini yang makan biaya paling besar adalah catering, karena jumlah undangan dikali 3 dan dikali harga.

Untuk baju, Alhamdulillah meski pesan di designer, tapi ibu designer ini teman baik sekaligus tetangga ibu mertua . Jadi harganya diskon, dan itupun jatuhnya ke saya jadi gratis karena hadiah mertua. Meski sediskon-diskonnya dan segratis-gratisnya sebenarnya saya tetap saja ga rela. Habis 2 baju buat akad dan resepsi saja kok harganya ngalah-ngalahi setengah tahun gaji saya , so sad, eman-eman. Selain itu bikinnya lama banget, berbulan-bulan, perkembangannya saya hanya baru diukur saja. Hiks

Untuk baju akad pria harga nya juga dapat harga khusus. Jas untuk midodareni sudah jadi ,harga khusus pula. Baju resepsi mas ngirit, karena cukup memakai seragam.

Seragam keluarga besar pesan di saudara dengan harga persaudaraan, hihi. Pemandu upacara tradisi Jawa dan tata rias, lagi-lagi teman mertua saya. Dan hadiah juga dari mertua. Padahal sebenarnya saya ini ga suka didandani, apalagi dandanan tebal, ga malah kelihatan cakep tapi malah kayak bencong. huhuhu. *sigh

Saya juga tak melakukan perawatan pra nikah seperti pasangan-pasangan lain. Saya malas sekali dengan kegiatan seperti itu. Toh bagi saya perawatan ga perawatan kayaknya ga ngaruh banyak, ga bikin wajah saya jadi seperti Mba Dian Sastro..hehe. Apalagi saya tomboi dan ga suka buang waktu berlama-lama di salon, lebih baik tidur :p. Yang penting tetap jadi diri sendiri dan cantik hati . Toh , dari dulu saya juga sudah begini, pacar juga ga komplain dengan penampilan. Kalau cuma untuk cantik sehari demi tamu terus perawatannya mesti berbulan-bulan saya malas.

Pada intinya selama persiapan ini, kami adalah pasangan yang mengandalkan diskonan alias harga miring. Yang penting sesuai dengan budget kami, tidak mengada-adakan sesuatu yang jauh dari jangkauan. Tapi rasanya tetap saja, nikah itu tidak murah. Ya ikhlas saja, awal memulai babak baru dalam hidup dan sarana berbagi kebahagiaan serta silaturrahmi bersama keluarga besar dan kerabat .

Nikahan (Edisi 2)

Kembali ke soal ranjang, tengah malam ranjang bergetar..ada apa? saya kena demam. Demam yang sampai menggigil banget deh, ga tau kenapa, mungkin kecapean abis ngurus ini itu sendiri, ditambah kerjaan kantor bejibun, ditambah tugas kuliah yang seabrek-abrek, ditambah beban mental mau jadi ibu rumah tangga. Ceilee, gaya saya. Tapi ditengah ke 'demam'an masih sempat bercanda sama suami

Saya : loh, ngapain saudara di kamar saya?siapa ya?
Suami : maaf mbak, dagangan baru ya?maunya booking Mbak Nabila Syakib sih, eh malah masuk sini.
Ya begitulah kalau org tak waras ketemu tak waras pula

Nah karena demam plus menggigil ria itu tak teratasi sampai shubuh, padahal udah minum panadol. Jadilah semua orang rumah menginstruksikan sesegera mungkin buat ke dokter, shubuh itu juga ke RS ditemani suami baru..:p. Pikiran saya sih ga ke sakitnya, tapi gimana dong, hari itu kan hari resepsi, kalau sampai ada apa-apa kan ga lucu, masa mas saya mau nyalamin orang sendirian sih di pelaminan, nanti kalau di goda cewek gimana,,ahwkwkhk, jadi pengantin dewean dong, lha dalahhhh..ada 2 aja

Nah karena demam saya kategori agak gaswat, dokter menyarankan saya istirahat di RS dan di cek darah. Apa???saya kan mau resepsian dok, enak aja, udah capek ngurus ini itu masa ga jadi tampil..hihi, norak yah saya. Ga gitu, maksudnya kok ya sakit pas hari penting sih ah, mbok ya sabaran dulu, paginya sebenarnya saya harus gladi bersih tuh, tapi mas nyaranin ''ga sah ikutan weisss,istirahat aja, nanti kalau jalan ngikut aku aja'' katanya. Oke deh, manut miturut pak suami.

Siangnya, hasil tes nya keluar, saiia kena gejala DBD, tapi apa mau di kata saya maksa diri ga opname2 an dulu. Sekali lagi atas instruksi Bapak, dokternya aja diajak stand by sejak acara dandan sampai kawinan, jadi kalau ada apa-apa tinggal lari ke rumah sakit. Untung dokternya masih kerabat, coba kalau ngga, mana mau coba di ajak stand by begitu, makasih dok.:D

Nah pas mau upacara pedang pora, deg2 an beneran ternyata, padahal pas dibilangi ibu dan kakak ipar saya ga percaya , ''alah jalan gitu ae deg2'' pikir saya mereka saja yang melebih-lebihkan. Biasanya saya yang liat, eh sekarang saya yang jalan di bawahnya. Horor juga ya, secara ga ikutan gladi bersih, dan dilihat banyak pasang mata, berasa artess , jadi ngikut pak suami aja jalan, tapi takut kesabet pedangnya mas-mas saya. Niatnya sih saya mau senyum termanis jalan kayak peragawati di cat walk gitu..halah, apadaya melihat suami dan mas-mas samping kiri kanan pasang muka sejuta rius , saya jadi ikutan tegang, wkwk..khidmad bener deh.

Apalagi suami, waduhhhh, mas saya biar humoris tapi kalau lagi acara begituan senyumnya mahallll bener deh, padahal kalau mau senyum ga kalah paten sama Afgan loh, minimal Ricky Harun lah, ada lesung pipinya gitu..tapi kalau sudah menyangkut hal-hal berbau resmi begituh serem amat bawaannya. Dasar elek!!! Please deh, ini kan kawinan, bukan medan laga, aura endel saya jadi terkubur, padahal kl saya agak in action siapa tau ada tamu undangan yang sutradara, kan bisa ditawari sinetron stripping atau paling ga bintang video klip...:p. Tapi Alhamdulillah wa Syukurilah saya bisa melalui semuanya tanpa berdarah tergores pedang sedikitpun, atau ga kejungkel pakai high heel 12 cm, secara saya kan tomboy sekali, hanya bisa pakai sepatu yang terepes dan landai rata, apalagi saya kerjanya perpaduan 50 % lapangan, ga mungkin dong wara wiri pake high heel, jadi saya benar-benar terharu dan bangga bisa pake sendal tinggi tanpa kecekluk..aman sampai tujuan. Lebay saya

Setelah salaman, seneng ketemu semua, saudara, teman, sahabat. Bahagia rasanya bersilaturrahmi begini. Terus muncul sahabat kuliah saya yang datang jauh-jauh dari Bandung yang dengan lantangnya teriak ''Tahun baru lalu dirimu nangis bombay putus ma bojomu iki cha, lha kok sekarang malah nikah, hahaahaaa'' menertawakan saya. ''katanya mau jadi business woman dulu, wanita mandiri, mau kerja dulu, berkoar2 wanita modern nikahnya nunggu matang dan sukses..ehhhh, ternyata dirimu berubah haluan, sama kayak wanita jaman penjajahan aja, boro2 nikah takut kiamat 2012 ya'', malu saya dibuatnya, cuman bisa nyengir aja.heehe

Alhamdulillah sampai akhir acara saya masih tegak berdiri, amiin, dan dengan obat dari dokter tetap bisa bertahan, bahkan 3 hari setelah itu sudah saya tinggal ikut suami kerja rodi, :D, iya lah, sama aja jadi istri mas itu kayak jadi PRT, meski ga disuruh, siapa yang bisa diem lihat rumah berantakan, cucian numpuk..hehe. Bener-bener deh, o iya saya jadi punya panggilan baru, Bu Abiyoso, ..aihhh, aneh, wagu bener begitu di kuping. Kenapa sih semua 2 mesti di panggil pake nama suami. Mba chacha, dek chacha, chacha imut, chacha cantik gt kan lebih enak di denger :P

Nikahan (Edisi 1)

Ditantangin Syasya alias Lakeisha ponakan saya yang imut dari Shandong sana.....Syasyaaaaaaa!!!! tante ngaku jadi tante Syasya, ya?ya?ya? abis siapa suruh Syasya chubby, imut, lucu , jadinya tante pingin diakuin jadi tante Syasya deh...kita mirip sama-sama cantik sih *tos* *guling 2 cupika cupiki cubit peluk pipi Syasya*, saya jadi deh nulis tentang malam pertama alias MP seperti wejangan Syasya (sebenernya yakin 2 juta persen itu mamanya Syasya yang penasaran, hanya saja memanfaatkan keluguan Syasya buat tanya2 MP..hehehe). Malam pertama saya benar-benar ''hot'' lohhhh..follow my story, hihihi.

Sebelum cerita MP, preambule dulu tentang akad nikah. Jadi nih ya, dari kapan taun saya sudah membayangkan akan menangis saat suami membaca ijab qabul, abis biasanya begitu sih kalau lihat saudara. Sudah siap mental mau nangis bombay, mana bawa tisu banyak segala, ehhhh, ternyata, si pak suami itu baca akadnya cepeeet banget, jangankan buat nangis, orang saya aja ga sadar di nikahi, tau-tau sudah sah aja, hweheee, maafkan istrimu ya mas, salah ndiri, sapa suruh nikahin cewek lemott , gini dah jadinya. Lha abis, mas saya itu dapat rumus dari mana, katanya dari dulu bercita2 mengucapkan kalimat akad dalam satu tarikan nafas, jadi kebayang kan cepetnya kayak apa, ibarat orang naik motor dah kayak Komeng aja, saya hanya bisa melongo dan ga menghayati. 


Tapi begitu sungkem sama ibu bapak dan embah puteri, jangan ditanya, ga cuma air mata yang keluar, ingus pun ikut keluar, srottt..srottt. Terharuuuuuuu banget, teringat semua pengorbanan beliau semua membesarkan saya, mendidik saya, teringat semua hal indah bersama orang tua.

Bahkan saat sungkem saya juga ingat loh, dulu pas kecil ditangisi ibu gara2 kaki saya kecemplung sayur lodeh..bener ini, swearr terkewer-kewer ga bohong, abis ibu masak sayur lodeh kan buanyakkkk buat orang kerja bakti di kampung saya, terus saya pas kecil agak hiperaktif tidak pada tempatnya gitu, ndak ngerti tiba-tiba kaki kecemplung panci yang isinya lodeh panas. Jadilah nih kaki kiri lecet luka bakar, terus ibu nangisi saya gitu sambil ngipas kaki bawa saya ke dokter, bapak aja sampai pulang cepet padahal waktu itu dines penting , terus ibu agak di salahin bapak, dengan alasan pasal kelalaian gitu..halahhhhh, emang ibu pesakitan apa.

Yang jelas bapak agak merengut ke ibu gitu, gara-gara saya luka itu, maafin saya ya buk..huhuhuhuhu. Saya juga ingat di selentiki bapak, apa ya bahasa Indonesianya di selentik..itu loh di pukul2 di kuping gitu, gara-gara kebandelan saya yang sudah kelewat batas pas kecil dulu, masa saya naik atap rumah tetangga, kan tingkat gitu, terus tangga rumahnya di luar, jadi saya leluasa naik ke atapnya yang di cor. Nah saya maen layangan disana sama Mas Yoga. Ga kebayang, sambil ndongak dan lari-lari di atap rumah lantai 2, kalau jatoh kan tinggal pecah aja ke**la saya. Bapak tau kita naik-naik, pas disuruh turun saya dan mas Yoga malah lari. Alhasil kita tunggang langgang pontang panting dikejar bapak terus diselentiki berdua, katanya biar kapok. uhuhu, maafin chacha ya Pak, suka nakal.

Ke embah puteri juga, suka bilang mau beli buku padahal uangnya buat main..hiks. Sampai akhirnya sungkem di kakak terganteng saya..cih, ga rela ....nangis saya baru reda, abisnya mas Yoga bilang ''eh, tambah jelek ah nangis,, rugi didandani kalo nangis gitu, kayak banci kaleng kena razia'', saya jadi berhenti sesenggukan deh
I lap you dah kakakkkkk, Mas Yogaku yang amit2 gantengnya *boong*, makasih juga mas udah membantu mendidik dan mengawasi saya, jadi kakak yang baik dan bertanggung jawab serta galak ruarrrr biasa selama ini, jadi adekmu ni masih dalam kategori aman terkendali meski jauh dari orang tua kita. Kapan-kapan ku buat postingan khusus tentang prestasimu sebagai kakak teladan dan membanggakan ya :p
Nah abis akad nikah kan ada sederet acara adat tuh, terus malemnya baru deh, atraksi di mulaiiiii,,ssst. Malam pertama saya benar-benar hot sampai ranjang bergoyang-goyang..Hot dalam arti sebenarnya. Saking nerveosnya saya, ga nyangka aja tiba-tiba sudah sampai di tahap ini..Alhamdulillah, si Mas akhirnya benar2 jadi teman tidur, menggeser posisi guling keramat saya yang sudah 23 tahun menemani, guling penuh iler kebanggaan saya. 


(Bersambung)

Tragedi AKibat Istri Lola

Minggu lalu, saya menemani suami ke undangan pernikahan teman di Cijantung. Di sana, tentu saja saya banyak bertemu teman dan sahabat suami. Setiap bertemu sahabat, biasanya kita berbasa basi saling tanya kabar ini itu. Dan ujung2 nya Mas selalu promosi menyuruh temannya cepat menikah...hehe, sok dia. '' Ayo bang, cepetan diresmikan, enak loh bang punya istri, ada yang ngurusi '', katanya ke abang2 senior.
Deg, kok saya jadi tertohok.

Sejauh ini saya jadi istri mas, rasanya masih kurang bisa berbakti maksimal begitu. Pertama karena faktor jarak, sesuai kesepakatan saya masih harus menyelesaikan pendidikan dan pekerjaan saya , jadi belum bisa menemani dia paling tidak sampai tahun depan. Boro2 saya ngurusi dia, orang ketemu aja paling seminggu sekali atau bahkan 2 minggu sekali.

Yang kedua, karena saya masih ingat banyak ''tragedi'' dimana saya dibilang ngurusi suami itu. Kapan hari saya pamer masak rendang (mau sok jadi Mba Fitri bikin rendang Padang) yang fotonya kata Mba Iyang kelihatan enak itu, jangan ditanya...saya suguhkan di depan Mas, dia tetap sabar makan, anehnya biasanya makannya cepet, tp kok waktu lama bangetttt, alamak saya mulai curiga. Ternyata..., rendang saya kepedasan parah dan dagingnya alot.

Jadi mas betah2 in makan racun itu. Tapi mungkin demi menghargai kerja keras saya, dia tetep makan ''gpp kok dek, enak, lumayan buat pemula..hehe'', dan hasilnya besoknya suami saya diare. Ya Allah, istri macam apa aku masak bukannya nyenengin suami tapi malah bikin si Mas penyakitan. Alhasil kerjaan dia hari itu ikutan terganggu gara2 sakit perutnya.

Kebodohan terulang, saat saya meniru kebiasaan ibu saya. Ibu selalu nyiapin kebutuhan bapak. Begitu juga, saya ikutan nyiapin barangnya mas, masukin laptop, kertas dan tetek bengeknya. Begitu saya sudah merasa memasukkan semuanya, saya merasa bangga...(lebai). Mas saya ga ngecek lagi hasil isian saya, mungkin dia ga enak mau meriksa lagi kesannya ga percaya saya, atau dasarnya males aja ..hehe. Saya bawakan sampe mobil, saya antar sampe pagar depan, saya tunggu sampe dia belok di depan kompleks baru saya masuk rumah lagi…ckckckkcck, (ga kalah sama cinta fitri dah kl begini).
Ga taunya setelah dia berangkat hp saya menyanyi

''walau ke ujung dunia ,.....walau ke 7 lautan....karena ku yakin....'' itu loh, lagunya Kahitna untukmu menderu2...hehe, ringtone saya memang ALAY.
Saya :''assalammualaikum Mas jelek, kangen ya?'' (Gr saya, abisnya baru keluar rumah 1 jam kok dah telp)
Mas : '' waalaikum salam, iya lah dek, kangen sama istri, lagi apa?
S :'' lagi nyetrika mas''
M : '' ati2 ya, awas listriknya, pintu depan udah dikunci blum?
ehm...ehm...o iya dek, coba cek in laci meja kerjanya Mas, ada HP satunya sama dompet ketinggalan ya?''
S :**degggg**..''ketinggalan ya Mas?? aduh maaf ya, adek lupa masukin''
M :''ga tau dek, coba dicek lacinya, ga ada di tas itu...Mas tanya takutnya Hp sm dompetnya jatuh atau kemana, sukur deh kalau di rumah''
S :''loh, lha nanti mas makan pake apa, duitnya ketinggalan, terus nanti bukannya lgsg ke kampus ada ujian?? ga bawa duit???Terus bukannya si choky lagi jadwal minum BBM, ta anterin ya''
M :''gampang dek, yang penting ga ilang, km tenang aja ya, ga usah di anterin, nanti malah adek yg ilang ga tau jalan''

Yaelah, gara2 keteledoran saya ujung2nya dia makannya ngutang , mau kuliah pun sakunya ngutang, padahal waktu itu pengalaman pertama nata tas nya, saya sudah menelorkan prestasi bikin dompetnya ketinggalan
Tragedi lain masih banyak lah, saya pernah lupa pas nyetrika sarung sholat kesayangan si Mas sampe tu sarung bolong. Pernah lupa ngasih makan "Bejo" dan "Slamet" si perkututnya yang jaoh2 dibawa migrasi dari rumah Mbah Kakung di Semarang sampai tu perkutut lemes ga bisa berkicau.

Selain itu, saya suka ketiduran saat suami masih melek lebar baca buku. Padahal saya selalu mengagumi bagaimana Bu Ainun dengan setianya menunggui Pak Habibie belajar sampai tengah malem. Bu Ainun biasanya akan membaca Al Quran, mengaji sambil menemani suami belajar. Lha saya???boro2
huh, *sigh, kapan ya ga bikin suami susah lagi, jadi istri yang bener2 berguna gt. Baru sebulan aja rekor dosa saya sudah bejibun. Saya tau sih, Mas ga pernah komplain, ga pernah ngeluh, tetep sabar. Tapi kan siapapun pasti pingin istrinya 'bener'.

Saya jadi ingat kalimat dibalik kesuksesan pria pasti ada campur tangan wanita. Nah kl sdh ada pameo kayak gini ujung2nya sy jd mikir, kapan suami saya bisa sukses kl istrinya masih males2an kayak saya. Anggaplah selama ini bapak karirnya lancar, saya menyadari betul peran ibu di dalamnya. Ibu yang mendukung penuh, ga pernah membebani pikiran bapak dengan masalah rumah, aktif di organisasi wanita institusi bapak, istilahnya ga pernah nyusahin lah.
Lha kalo saya, mulai mikir2, kapan bs kayak gt????*garuk2 kepala

Wanita Single Vs Menikah (Ibu RT)

Bersyukur, saya mendapatkan cuti yang relatif panjang dari tempat kerja, ya iya lah soalnya selama ini saya ga pernah ambil cuti. Jadi, saya masih punya waktu 8 hari libur setelah nikah. Tapi bukannya bulan madu yg kami lakukan..hehe, maklum habis nikah suami langsung kerja, ga ada bulan madu2 an kayak pasutri di sinetron2. Setidaknya, saya bisa mengikuti suami ke Jakarta jadi ibu rumah tangga sejati selama seminggu ini sebelum balik kerja..hihi. Dulu saya paling males dengan yang namanya ibu kota yang bagi saya identik dengan macet, panas dan pemalakan. Jujur kacang ijo, saya lebih mempersiapkan mental mengikuti penempatan suami di Luar Jawa. Tapi lha kok ndilalah, suami malah ditempatkan di sini, begitu juga dengan orang tua sejak beberapa bulan ini pindah dinas ke Jakarta.
Aktivitas sebagai lajang dengan ibu RT pasti berbeda. Bagi saya yang masih sangat baru dan junior ini perbedaannya :
1.   Kalau dulu, setiap sholat sendiri, sekarang jadi ada yang ngimami di rumah, asal ada mas sih, kalo ga ada ya tetap sendiri. Malah kalau shubuh, mas selalu mengajak ke Masjid sambil bersosialisasi dengan tetangga baru :D
2.   Kalau dulu,  habis shubuh bisa balik tidur atau santai main game, sekarang sibuk di dapur. Kebetulan kami tinggal di perumahan biasa yang agak jauh dari tempat kerja mas jadi Mas berangkatnya agak pagi dan artinya saya menyiapkan sarapan harus lebih pagi lagi. Dan kreasi sarapan buatan saya biasanya adalah nasi goreng, oseng tempe kesukaan mas, atau sayur bening ditambah jus strawberry. Untungnya mas saya itu makannya ga susah, jadi bisa mentolerir masakan istri yang gaya masaknya masih amatir jauh dari Farah Quenn ini. Biar ga professional yang penting masaknya penuh cinta..welehh



Nah, biasanya kalau saya lagi masak pagi suami sibuk mengerjakan tugas, kadang balik tidur lagi :p, kalau ga gitu ngurusi si perkutut yang katanya lagi kurusan karena baru dititipin ke anggota selama di tinggal ngurus nikahan kemaren. Selesai masak, nyiapin seragam suami, kalau kelihatan kusut disetrika lagi :p, abis itu nata perlengkapannya yang dibawa kerja, nata baju ganti karena dia selalu butuh ganti pas pulang, nata snack nya..kayak anak kecil yah . Terus nata laptop dan kertas2 nya yang suka memenuhi meja, habis mas saya agak berantakan, laptop suka nyala sampai pagi. Setelah menemani suami sarapan, nganter suami sampe pagar, baru masuk kalo mobil atau motor suami sudah belok sampe depan kompleks...hehe, maklum, masih pengantin baru jadi norak.
3.   Kalau dulu siang-siang pas liburan sukanya keluyuran, jalan-jalan sama temen, sekarang nggak. Setelah suami berangkat, nyuci piring, habis itu bersih-bersih rumah, yah maklum selama ini mas tinggalnya sendiri, jadi rumah agak berdebu gitu. Termasuk perabotan dapur, jenis perabotannya sudah lengkap ga kalah sama Chef Bara, tapi yang dimanfaatin hanya satu, panci kecil buat merebus mie, yang lain hanya terpajang manis di tempatnya penuh debu :p. Setelah bersih-bersih rumah dan dapur selesai, lanjut ke nyuci baju.
Ini bedanya, kalau dulu nyuci cuma sebentar karena cuma baju sendiri, sekarang jadi lama buangettt, apalagi Mas itu tipe orang boros baju. Kalau saya sehari cukup hemat baju, ganti 2 atau 3 kali. Mas kayak bayi bisa ganti 5 kali sehari bahkan lebih. Pagi pakai baju kerja, berangkat bawa 2 pakaian , yang pertama buat futsaal, atau badminton bareng temennya, atau di hari2 tertentu baju buat kuliah, terus mau pulang ke rumah ganti kaos lagi, katanya ga enak kalo pake kaos keringetan. Nah, sampe rumah abis mandi ganti baju lagi, terus misal mau keluar nemeni saya jalan-jalan ganti lagi, dan terakhir mau tidur ganti lagi...haiyaaaaa, bayi bener dah. Ga kebayang entar kalau saya sudah punya bayi, bapak dan anak sama-sama boros baju, ibunya hanya bisa nyuci sambil meratapi...*sigh..alay deh saya. 

Selesai nyuci, saya telponan sama ibu Mertua, kayaknya beliau khawatir banget sama saya, takut saya ga nyaman tinggal di tempat baru atau ga nyaman sama mas, (makasih ibu..anak ibu baik kok :D)..abis itu nonton TV , hihi kayak emak-emak bener ya, malah bisa ketiduran di depan TV bentar di siang bolong. Sore nyetrika baju yang sudah kering, abis itu masak lagi nyiapin makan malam. Ini contoh kreasi masakan saya untuk makan malam.

Resep dari ibu. Sebenernya bisa saja sih cari di internet, tapi bagi saya masakan paling enak itu hasil karya ibu, jadi gpp deh ganggu acara ibu kadang pas pengajian, kadang pas acara bhayangkari, kadang pas ibu lagi sibuk cuma buat tanya kluwek buat rawonnya seberapa :p, tanya resep lodeh, bikin rendang gimana, pake merica apa pake cabai...hihi. Abis masak, ngompasiana, liat update an baru dari teman-teman kompasioner yang idenya ga pernah mati..hehe 
4.   Kalau dulu nih, malem-malem sepulang kerja pasti diam di rumah, abis Isya tidur. Sekarang, tidurnya malem soalnya nunggu suami pulang kuliah nya jam 10 baru sampe rumah. Kalo lagi libur dia nemeni saya jalan-jalan..:D. Maklum saya kan dari daerah jadi agak heboh kalau lihat Mall di ibu kota yang segedhe gaban. Cuma cuci mata aja gitu, ga belanja. Ya hanya belanja kebutuhan dapur sih, buat isi kulkas biar kelihatan kayak rumah tangga beneran. Habisnya, pas saya datang kulkas sebesar itu isinya mengenaskan sekali, hanya 1 kotak ice cream , seplastik sosis hampir kadaluarsa dan 4 buah jeruk yang kulitnya hampir gosong kering kelamaan di simpan. Nah semenjak ada saya, kulkas jadi rame kayak pelangi, penuh warna warni sayuran dan bahan masakan deh. Kalau ga belanja, ya cuma keliling kota aja, lihat ini dan itu atau nonton. Kalau ga gitu, main ke rumah orang tua saya meski jauh banget di daerah Daan Mogot sana. Sampe rumah malemnya masih nemenin mas nonton TV atau baca, padahal saya ini tukang tidur, suka ngantuk. Sedangkan suami hobi sekali begadang, baca buku atau nonton film sampe hampir pagi. 

5.   Kalau dulu hari Minggu adalah hari tidur saya, sekarang di ajak olah raga ke senayan. Karena sudah lama ga olah raga, jadi saya niat banget tuh di ajak lari, mempraktekkan nasehat bapak sedari kecil, lari dengan pandangan lurus ke depan, langkah konstan dan pasti. Tapi, saya dapat 4 putaran yang ngajak lari malah dapat 2 putaran. Lha iya, orang dia ga niat lari, cuma cuci mata tebar pesona lihat cewek cakep...kalo ga gitu dikit2 berhenti buat jajan. hwehehe. Kata mas saya dia sudah kebanyakan olah raga jadi kalo Minggu niatnya cuman cuci mata dan saya hanya mbatin, dasar pria, *sigh...haha 

Ya itulah sekelumit cerita emak2 baru yang ga penting. Untungnya kami tinggalnya di area yang tingkat individualisnya ga tinggi, tetangga pada baik..Alhamdulillah. Sayangnya besok harus balik kerja, dan hari ini saya pulang ke Malang. Bener sih kata orang-orang nikah itu ga cuma enak..tapi enak bangettt, apa-apa di share, jauh lebih enak dari pacaran:D.

"Para Priyayi"-nya Umar Kayam





1311121929786782435
Pinjeman sana sini

Sebenarnya dulu awal gabung kompasiana saya sudah pernah posting tentang Umar Kayam, tapi ga tau postingan itu ilang kemana. Saya tau diri, sebenarnya ga kompeten untuk mengomentari karya sastrawan sebesar Umar Kayam. Tapi gpp deh, pingin nulis. Soalnya Umar Kayam (alm) adalah penulis favorit saya nomer satu.., selain Remy Silado, Andrea Hiratta, A. Fuadi dan Arswendo Atmowiloto. Biar saya buta sastra, tp setidaknya saya menikmati novel2 beliu2 yg mengagumkan itu. Saking sukanya dengan Umar Kayam bahkan saya senang sekali kalau jalan2 di Bulaksumur Jogya karena markas Umar Kayam disana (alaaaayyy banget yakkk :p, tapi bener).
Hampir semua karya Umar Kayam saya sukai, Sri Sumarah, Seribu Kunang2 di Manhattan, Para Priyayi 1 dan jalan menikung alias Para Priyayi 2 dan catatan tentang Pak Ageng nya di kolom mingguan di "Kedaulatan Rakjat" yang kemudian di bukukan dengan tajuk Mangan ora Mangan Kumpul dan Satrio Piningit ing Kampung Pingit kl ga salah.
Ini buku2 beberapa nemu di rumah Eyang Kakung di Solo sono pas saya masih SMA kelas 2 dulu, sekitar 2004 . Saya pinjem deh. Awalnya di tagih2 terus sama eyang saya yg biar sepuh tetep tau kl ada bukunya yg kurang, tapi berhubung akhirnya beliau menyadari kl saya ga berinisiatip mengembalikan, sok lupa mengembalikan, dan memang saya ga rela balikin (ati2 kl minjemi saya barang..wkwk) akhirnya dihibahkan dengan sedikit terpaksa dan tidak rela. hihi. I lap you dah Yangkung. Yang sepuh yang mengalah , yang tua pasti bijak.
Sett dah, ga terasa ya, tuh buku sdh 7 taun saya pinjem. (jadi curcol).
Yang paling saya suka adalah Para Priyayi. Entah berapa kali baca, tapi tetep blum bosan. Sama dengan karya UK lainnya, Para Priyayi kental dengan humaniora Jawa, dan bersetting jaman penjajahan Belanda, Jepang hingga Kejadian 65. Bukannya saya kesukuan, tp berhubung saya jg wong jowo, makanya sedikit nyambung dengan humor cerdas dan istilah2 bahasa Jawa yg banyak dipakai sepanjang novel ini .
Para Priyayi ini novel yang disusun dengan bantuan Yale University, penyusunannya full dilakukan di USA hampir 2 taun, aneh ya, novel Indonesia malah banyak unsur Jawanya begini disusun jaoh2 disana..wkakak *rumpi*.
Dikisahkan, Sastro Darsono, anak seorang petani yang berjuang menapaki tangga priyayi dengan menjadi seorang guru bantu hingga akhirnya menjadi guru dan Kepala Sekolah. Bagi orang Jawa jaman dulu, tangga priyayi itu penting karena meningkatkan derajad di masyarakat. Ya mungkin sama seperti sekarang, dimana abdi negara semacam PNS, pegawai BUMN, itu masih menjadi posisi yang dikejar2. Sastro Darsono kemudian membagun dinasti Priyayinya sendiri. Semua anaknya pun sukses mengikuti, Nugroho yg awalnya menjadi guru HIS kemudian ikut PETA dan menjadi Perwira TNI , Hardojo abdi Mangkunegaran dan menantunya Harjono yg kl jaman sekrang istilahnya Deputy kementrian gt deh.
Tapi priyayi yang dikisahkan disini tak sekedar itu. Priyayi adalah orang yang dapat di teladani sekitar dan keluarganya, priyayi adalah orang yang peduli terhadap keluarga besarnya. Seperti dicontohkan, bagaimana Sastro darsono merawat keponakan2nya yang tidak mampu. Misalnya Sunandar. Sunandar diberi pendidikan yang sama dengan anak2 Sastro sendiri, meski kemudian dia tidak berhasil sama sekali dan justru bergabung dengan gerombolan rampok. Tapi siapa sangka dari Sunandarlah, seorang priyayi tulen, penyelamat keluarga besar Sastro Darsono di lahirkan.
Lantip namanya, putera Sunandar hasil menghamili gadis desa yang kemudian ngikut di ndalem Setenan (rumah Sastro) banyak berperan di novel ini. Dia lah yang menunjukkan jati diri sebagai priyayi sejati. Di masa dewasanya, Lantip sukses menjadi dosen, dan membantu menyelamatkan nama baik keluarga besar Sastrodarsono akibat ulah cucu2nya, mulai dari Marie yang hamil di luar nikah hingga Harimurti yang tersangkut G-30 S PKI.
Yang kedua, priyayi harus senantiasa 'ngelmu lewat laku',   yaitu terus belajar dan belajar dengan sungguh2, usaha keras supaya makin berguna bagi masyarakat banyak.
Dan meningkatkan kepekaan bathin. Hal ini di gambarkan kayyam dengan Serat Wedhatama Karangan Kanjeng Gusti Mangkunegara IV dan Serat Wulangreh karangan Sinuwun Paku Buwana IV.
Yang ketiga, priyayi itu harus setia dan rela berkorban kepada negara, kesetiaan yang tak tanggung - tanggung,bahkan kesetiaannya digambarkan kayam,salah satunya seperti kesetiaan Karna kepada Kurawa. Karna adalah kakak dari Pandawa beda ayah, anak haram batara surya dengan Kunti, sejak kecil dia di buang dan di besarkan oleh kusir kerajaan Ngastina , kerajaan para Kurawa. Pada saat perang Baratayuda, ibunya membujuk agar dia di pihak Pandawa, tapi dia tidak mau.Menurut dia, satria yang baik mestilah tau balas budi, setia terhadap raja dan negara nya, meskipun pada akhirnya dia gugur kena panah adiknya sendiri, Arjuna.
Tentunya dalam buku ini tidak digambarkan bahwa priyayi itu sikapnya sempurna dan tanpa cela, tentu ada skandal2 yang mengikutinya layaknya manusia biasa, tapi yang jelas buku ini sangat mengena di saya.
Dan sepertinya boleh juga sebagai tambahan bacaan para aparat negara,siapa tau dapat mengembalikan segelintir atau banyak gelintir aparat yang awalnya agak melenceng menjadi lebih lurus. Amiin Ya Rabb..(serius).
Maap yakk postingannya kepanjangan...saya memang rada hebring kl bahas karya Umar Kayam...gimana lg, suka sihhh...hihihihi



Kenapa Saya Cengengesan??

''Apakah kamu itu ga pernah sedih ya cha???''
Senyum mulu, *bahasa alusnya,karena temen saya ga tega bilang, cengengesan atau cekikikan*
Saya jawab, pastilah punya, ''lha wong manusia kok, kan dikirim ke dunia buat belajar keluar dari masalah, itu essensinya hidup, menghadapi masalah''.

Kok ketawa mulu??

Ya karena saya ga mau bikin hidup yang sudah rumit malah jadi tambah rumit aja.
Semua orang pasti punya beban hidupnya sendiri-sendiri.. Saya pun begitu. Banyak masalah juga dalam hidup. Tapi tak harus dikatakan di sini lah semuanya. Bisa ga selesai2 sampe episode 1000 kyk cinta fitri.
Terus terang , saya bukan anak yang sepanjang hidup ditemani orang tua, saya hidup dengan embah saya. Karena orang tua harus bekerja. Apakah itu masalah??? Saat kecil hal itu sering jadi masalah, jadi beban hati dan mental, saya ga bisa sering kemana2 sama ortunya kayak anak lain, raport jarang diambilin ortu, saya ngerjakan PR sendiri. Kl sekarang mgkin santai, lha dulu waktu kecil??? sadd..
Saya dididik dalam keluarga yang sangat disiplin dan keras, embah kakung saya adalah orang yang sudah menyusun jadwal jam segini saya harus dimana dan ngapain..serba teratur, yang kadang bikin saya bosen.




13119892761676103851

Anjing aja selalu ketawa (pinjem google)

Masalah iri dengan saudara??? sering,meski tersellubung...hahahahahahahaa *tertawa sengak*. Dia yg senantiasa bintang kelas mau tak mau dapat pujian ortu dan guru. ''Kamu harus bs kyk mas mu cha''..walah, lha wong sy ini anak kelas menengah, tau kan??kl siswa 30 sy peringkat 15 kl siswa 40 saya pringkat 20...., nah kl siswa 50, sy peringkat 25..akhirnya muncul deh masalah penyakit hati = iri. Punya kakak juara olimpiade Fisika , terus adeknya nilai raport Fisika kebakaran dapat 5....ahuahuahuhikzzz, nyesek banget deh.

Masalah pacar (dulu)???seringgggg, saya bukan seperti orang lain yang bisa kemana2 ditemani pacar. Pacar saya jauh sejak SMA. Apalagi saat dia pendidikan di suatu institusi 3 tahun lamanya, yang mau ngapa2in serba di atur. Telpon nunggu waktu tertentu, apalagi kencan???byeuuuh nunggu cuti. Itupun kemana2 bertanggung jawab untuk bertindak sesuai etika. Jadi ga mungkin kita gandeng2an di tengah mall...huwahahaaa. Ga mungkin bisa tertawa teriak2 di tempat umum. Dan bapak saya orang yang keras, ga akan diijinkan kami kencan malam, yang ada kencan di siang bolong.

Urusan rumah tangga?????pasti lah,  dalam rumah tangga itu ada 2 kepala, 2 otak, ya pendapat sering beda. Urusan rumitnya mengatur penghasilan???jujur saya org yang kagetttt juga, rumit juga mengatur keuangan rumah tangga. Setelah tabungan habis terkuras buat menikah, istilahnya sampai tetes terakhir , kita harus mulai dari nol. Tanggal muda bukannya seneng2, malah sibuk alokasi uang, yang mana buat bayar kuliah kami berdua, yang mana buat bayar cicilan, yang mana buat makan dan bayar listrik, lampu,telp,dll di 2 rumah, karena kami tinggalnya beda2, yang mana buat transportasi seminggu sekali Malang - jakarta atau Jakarta Malang. Belum lagi pengeluaran lain2 yang Astagfirllah, saya ga pernah kepikiran sebelumnya. Dulu sih ga pernah mikir yang beginian. Tapi Alhamdulillah kami tidak pernah bertengkar atas materi *niru Uni Fitri*.

Ya, selagi masih sehat, mari sama2 cari uang bersama. Tapi mengeluh???saya sering, kalau sudah capek pinginnya bilang aja sama ortu ,,,,huwahuwa, cethek banget mental saya?? Tapi Mas senantiasa memperingatkan, jangan pernah sekalipun mengadu soal materi dengan orang tua pihak manapun, meskipun mungkin dengan mengadu masalah bisa selesai. Mas mengatakan beliau akan amat sangat marah kl sampai itu terjadi. Dan, saya sadari itu benar adanya, tak layak saya mengadu seperti itu...yes, this is the real life yang harus dihadapi.

Masalah Kerja??????bekerja apalagi di swasta yang dinamis dan penuh persaingan pasti banyak pertengkaran. Hampir setiap hari di kantor saya ada selisih pendapat....ya itu wajar, demi mendapat hasil terbaik, brain storming itu perlu...asal tidak sampai ke masalah penyerangan pribadi.
Pernahkan anda memiliki rekan kerja dimana setiap ngomong harus anda rekam agar tidak sampai mencla mencle di kemudian hari????saya sampai saat ini masih memberlakukan itu untuk beberpa rekan kerja. Apa yang beliau omongkan tak hanya saya catat, tapi saya rekam. Apa alasannya????bisa ditebak kan, karena apa yang di katakannya hari ini bisa berbeda besoknya bahkan apa yang sudah tertuang di atas kertas aja bisa di ingkari kok, dan itu akan mempermalukan saya dan membuat project yang sudah saya susun gagal beraantakan.

Masalah pendidikan????ini langgangan saya, kadang capek juga pulang kerja masih harus ngerjakan tugas. *itu emg tanggung jawab cha, bukan masalah*...huwaa, tp beneran kdg pingin nangis kl bisa tempuk jadwal, pagi harus presentasi project kerja, malem harus presentasi kuliah....hghghhhg, bikin saya yg tukang tidur jd ga bisa tidur, nah itu masalah. Belum lagi kl projectnya dihadang sana sini dan presentasi tugas di cela habis2 an sama Pak /Bu dosen...walahhhh...lengkap sudah penderitaan , kl sdh begini maunya konsultasi aja Sama Pak dosen Armand...nah loh????*bukannya Bang Armand ga nerima curhatan peremmpuan...wkwkwkwk*
Ya itulah hidup, warna warni euyyyy.

Kalo ga senyum masa mau dihadapi dengan nangis sambil cemberut sepanjang hari. Hihihihihi. Yang jelas masalah adalah suatu pembelajaran Mahal dari Allah supaya kita senantiasa naik kelas, lebih baik dan baik lagi.....bukankah begitu...

Derita ”Suka Nyasar”

Kesasar adalah salah satu kebiasaan saya. Saya sendiri juga ga ngerti apa sebabnya. Yang jelas saya ini kalau lagi terfokus sama sesuatu, hal2 kecil bahkan jalan pun jadi ga kepikiran. Padahal hal2 kecil juga suka bikin akibat fatal. Ditambah pelupa walah lengkap sudah. Ada kalanya jadi sebel sama diri sendiri, tapi ya buat apa sih disesali, banyak kesialan akibat kesasar, ga perlu saya ratapi lah. Disikapi dengan kepala dingin saja, diusahakan ga terulang. :D

 Sewaktu pengangguran habis lulus kuliah saya kan ngelamar kerja sana sini tuh. Pastinya banyak panggilan tes dong. Lah salah satu panggilan tes itu yang berkantor di Graha Pangeran, sebelah Cito, tepat di awal masuk kota Surabaya. Saya sadar betul tempat itu dimana, tapi karena terlalu fokus ke tes, dengan suksesnya kendaraan saya pacu ke arah tol bandara. Salah jalur dengan reflek dan baru tersadar beberapa saat kemudian. Berhubung itu tol ya, mau ga mau saya kan harus tetap terus. Welehhh, alhasil saya datang psikotest telat. Teng2..padahal meski tes salah satu bank nasional, pihak yang mengetes adalah lembaga psikologi dari salah satu institusi militer yang berbasis di Surabaya…nah lohhh..kebayang kan..saat dituntut disiplin saya malah telat. Tapi masih untung di bolehin masuk :p

Perlukah Menilai dan Menakar Manusia Lain sebagai Makhluk Sosial?

Kita sebagai manusia seringsekali mengklasifikasikan manusia lain berdasarkan harkat, pangkat, derajat , pendidikan dan tolak ukur lainnya. Apakah hal itu wajar? Menurut saya itu manusiawi, bawaan manusia dari sananya, suka menilai, menimbang, dan menakar .

Saya pun begitu, setiap mau berbicara dengan orang lain, otomatis saya menakar tingkat pendidikannya, ..dengan maksud supaya bicaranya bisa nyambung, ngena dan komunikatif satu sama lain.

Tapi sesungguhnya apa itu pantas di lakukan manusia terhadap manusia lainya?

Hari ini, dalam perjalanan menuju kantor, tiba2 saya tersadar melalui banyak hal yang saya lihat, apa hak saya untuk mengklasifikasikan seperti itu, kadang klasifikasi itu malah menuju arah penggolongan manusia penting atau tak penting berdasarkan prestise pekerjaannya…semua manusia saling melengkapi

Uneg-uneg jadi Orang Jawa

Dalam hal ini, saya mengambil contoh fenomena budaya jawa, bukan bermaksud kesukuan, tapi saya ambil contoh lingkungan di mana saya tinggal. Yaitu di kota batu jawa timur.

Dekat saja, di lingkungan tempat tinggal saya merasa apresiasi masyarakat terhadap budaya jawa sudah mulai luntur. Apakah ini pengaruh dari globalisasi, mungkin salah satunya iya.

Terhadap anak - anak kecil, orang tua sudah jarang berbahasa Jawa, tapi Indonesia, atau malah bahasa Inggris. Mungkin karena mereka menganggap berbahasa Indonesia terkesan lebih terhormat begitu daripada berbahasa Jawa. Orang tua juga sibuk mengajari atau mengkursuskan anaknya bahasa asing sejak dini, bisa bahasa Inggris, Jepang atau malah Mandarin dan Jerman.

Bila di tempat saya ada pelajaran muatan lokal yang dinamakan Bahasa Daerah,maka nilai raport di matpel itu akan di lihat belakangan. Menunjukkan betapa kurang pentingnya muatan lokal ini di mata mereka.

Saya Rela Dipanggil “Judes” asal Kalian ga Telat !!!

Saya lebih memilih di katakan judes, terserah deh penilaian semua orang. Yang jelas saya tak akan pernah mau mentolerir keterlambatan SDM yang berada di area koordinasi saya. Memang , saya sadar sekali, di awal pasti akan banyak yang kontra dengan ini, tapi mengubah segala sesuatu untuk menjadi lebih baik ada kalanya akan menyakitkan di awal.

Bagi saya semenit, 5 menit, 1 Jam, semuanya sama. Terlambat.

Ini adalah bagian dari proses tanggung jawab saya, bagian dari membalas kepercayaan yang telah di berikan. Siapapun yang terlambat barang semenit pun yang berada di area koordinasi saya, HRD sekalipun silahkan pulang dan akan di anggap ijin untuk hari itu. Makna ijin artinya, gaji akan di hitung proporsional sesuai kehadiran, begitu juga akan berpengaruh ke penilaian prestasi kerja dan premi prestasi yang di dapatkan. Ini tentu saja bukan karena saya mentang2…tp ini adalah bagian dari pendidikan karyawan, proses pengembangan SDM. Tindakan ini memang saya ambil untuk menyikapi keterlambatan yang sudah berlebihan. Dulu di tempat kami ada toleransi keterlambatan 10 menit, akibatnya malah hampir semua karyawan telat 10 menit, mungkin anggapan mereka, kan masih dalam batas toleransi. Tentunya saya tak bisa mendiamkan ini, mau di katakan saya bau kencur, baru lulus makan bangku kuliah sudah berani macem2 ngubah peraturan…saya ga peduli

Bagi saya keterlambatan itu artinya tak bisa memanage diri dengan baik. Bagaimana orang akan memange pekerjaan dengan baik, kalo memanage diri sendiri yang semuanya serba nempel aja ga bisa…apa jadinya kl semua organ ini mesti di setting..bisa2 udah nyampe kantor telat..eh masih ketinggalan hidungnya di rumah

Alasan macet, semacet apa sih kota Malang, apa susahnya berangkat 10 menit atau 15 menit lebih awal dari biasanya. Ga perlu berangkat pagi shubuh untuk sampai ke tempat kerja tepat waktu. Ada lagi karyawan jabatannya cukup tinggi,dan punya banyak bawahan, yang rumahnya di surabaya, tiap hari alasan macet lumpur lapindo…bagi saya, alangkah bodohnya dia, setiap hari telat dengan alasan yang sama…kenapa ga berangkat lebih pagi , bukankah dia sudah paham dari 3 tahun lalu kl lapindo pasti macet…di mana kemampuan memanage waktunya, akibatnya anak buahnya pun yg notabene rumahnya di malang jd ikutan sering nelat……mungkin pikirannya lah wong bosnya sendiri suka nelat….

Terhadap orang yang suka terlambat… apa mungkin saya akan mempercayainya untuk mengerjakan project2 yang membutuhkan ketepatan waktu…jangan harap sedikitpun…

Bagi saya ketepatan waktu sangat penting…contoh kecil saja, apa jadinya kalau semua sopir dari Divisi kendaraan telat…sopir telat artinya pengambilan bahan baku ke Gudang Bahan baku jadi telat…ketelatan bahan baku akan mengacaukan perencanaan produksi yang disusun…minimal kalau telat .. Lah kalau produksi sampai tertunda lebih ekstremnnya…artinya? ….produksi yang harusnya mencapai target jadi hanya sepersekian dr target, efisiensi ga jalan…SDM yang ada ga termanfaatkan secara optimal

Pemenuhan order marketing ke konsumen telat…ketidakpuasan pelanggan muncul…gawat kan….

jadi … saya tak akan pernah mentolerir keterlambatan sedikitpun…kalau saya tolerir 5 menit…pasti akan banyak karyawan masuk 5 menit setelah jam yang di tentukan….bayangkan kalo sekitar 2 ribu karyawan terlambat…artinya 2000 x 5 menit = 10.000 menit = 166 ,67 jam…wow, ada inefisiensi jam kerja 166 ,67 jam, seandainya semenit maka 2000 menit atau 33,33 jam.

Kesimpulan : judes…why not asal jangan telat…saya terima deh apapun sebutannya..hihi

toh ini tidak hanya menyiksa atau mendidik yang biasa telat saja. Saya pun juga terdidik dengan sistem yang saya susun sendiri. Saya yang biasanya suka balik tidur selepas shubuh, jadi ga bisa tenang tidur lagi. Apa jadinya kkalau si pembuat kebijakan malah melanggar kebijakan yang di buat…bunuh diri dong..konsekuensinya lebih berat..tak hanya sanksi gaji , prestasi dan premi..tapi akan ada beban mental…

Rejeki Itu Disertai Pilihan

Saya pernah berada dalam dilemma besar saat memutuskan bekerja kemana. Setelah 5 bulan kesana kemari tes dengan status pengangguran pencari kerja, akhirnya saya di terima di 2 perusahaan,di waktu bersamaan. Yap, saat saya di hubungi lolos tes ODP alias Officer Development Program di salah satu bank plat merah, setelah saya tes bertahap2, saya juga di nyatakan di terima sebagai anak MT alias management trainee di salah satu perusahaan swasta di Malang setelah tes bertahap2 pula .

Waktu itu di antara rasa syukur,jujur juga terselip kebingungan mau pilih yang mana. Memang ada kalanya rejeki itu di sertai pilihan. Mungkin Yang di atas hendak mengajari hambanya untuk mengambil keputusan, menunjukkan otoritas terhadap diri sendiri. Bahasa jawanya….Iki loh,pilihen dewe…

Di saat saya bingung menentukan pilihan, maka hal yang biasa sy lakukan adalah berdialog dengan ibu saya. Dan ,waktu itu ibu saya menyerahkan semua nya kepada saya. ”Dimanapun asal kamu bertanggung jawab, itu sudah cukup buat ibuk”. Wah,memang aura seorang ibu, mengatakan satu kalimat sudah bikin adem. Sedangkan bapak malah cm berkata ”ojo lali, nanti kl sudah dapat gaji buat sekolah lagi aja”…memang bapak sangat menginginkan anak2 nya sekolah kl bisa setinggi2 nya…dan tambahan dari embah putri saya”nduk, kerja itu sama saja, mau di BUMN,di swasta,jadi pegawai negeri..sing penting amanah, soal gaji,berapapun asal barokah”

Akhirnya, saya putuskan lah memilih sebagai anak MT. Pertimbangannya,karena ODP penempatan se Indonesia setelah lolos training dan trainingnya pun di Jakarta. Sedangkan MT penempatan kerjanya di Malang. Owalah..pikiran saya kok sempit, tidak berani melenggang jauh2 dr kota kelahiran. Sebenarnya bukan itu maksud saya. Ini lebih karena saya adalah anak satu2 nya yang tertinggal di rumah. kakak saya sudah hidup jauh dr rumah karena alasan tugas dan pekerjaan. Artinya, tanggung jawab menemani orang tua ada di pundak saya. Bukan berarti mau sok berbakti atau bagaimana..tentunya orang tua saya masih sehat walafiat, untuk urusan hidup tak akan mau membebani anak2 nya…bukan tanggung jawab ekonomi yang sy maksudkan….tapi saya suka teringat….Bagaimana ibu sekaligus bapak saya biasanya akan menunggu di teras rumah kalau saya kuliahnya belum pulang2, atau bagaimana mereka selalu menelpon saat saya KKN dulu…gimana sehat disana? Ada masalah?…

Itulah kasih orang tua yang sesungguhnya….dibalik pertanyaan yg disertai sedikit amarah kadang ”nandi ae,kuliah kok jam segini baru mulih,hp di pateni (kemana aja, kuliah kok jam segini br pulang,hp dimatikan)..sebenarnya dr situ bisa di lihat betapa ortu sangat menghawatirkan saya..

Maka saya pun berpikiran..sekarang saya lah yg punya tanggung jawab menemani orang tua. Sejujurnya, saya bukan anak yang talktive dan suka curhat dengan ortu, bukan anak yang rame. Biasanya kalau di rumah hanya diam,main game, nonton tv,baca2 buku atau ngenet. Tapi ibu biasanya akan comment kalau saya pergi agak lama misalnya saat KKN atau PKL…omahe sepi ga ada anak e…rumahnya sepi ga ada anak (saya)….itu artinya, kehadiran kita berarti untuk mereka,

Yap,atas dasar itulah saya memilih kerja di Malang saja,supaya tiap hari masih bisa pulang.

Alasan kedua, adalah karena saya sejujurnya belum tentu sanggup berjibaku kerja di ibukota . Saya belum tentu sanggup mengatasi kestresan terutama akibat macetnya. Mungkin kalau tempat kos dekat dengan tempat kerja tidak menjadi soal. Sedangkan jika jauh??apalagi tante saya sudah mewanti2…kalau kerja di Jkt di larang kos, km mesti tinggal sama tante…weleh2…bukti kecintaan tante kepada ponakannya. Tapi rumah tante saya itu di pinggiran kota…alamat saya mesti berangkat pagi2 buta agar sampai tepat waktu. Saya bukan orang yang anti ibukota, justru saya adalah penikmat kota Jakarta, tapi untuk sesekali saja saat liburan misalnya. Karena siapapun orangnya,pasti akan senang kalau kemana2 banyak Mall, kemana2 liat gedung tinggi2 menjulang,lihat2 gedung pemerintahan..apalagi orang kampung seperti saya…hihi…tapi kalo jd bagian dari warga ibukota…saya hanya teringat hal2 buruk saja yg pernah sy alami di sana…

Misalnya, saat mau kecopetan 2 kali di Plaza Semanggi dan MOI…tiba2 aja pencopet udah memasukkan tangannya di tas saya yg memang tas terbuka..atau pengalaman di palak sopir taksi…atau desak2 an di serobot orang sebelum masuk busway..Jadi sampai saat ini,belum pernah terpikir keinginan hidup di

Saat ”Kucing - Anjing” Berjodoh

Ini adalah kisah tentang 2 sahabat saya sejak kecil,bahkan mungkin sejak balita di penimbangan Posyandu…hihi, biasanya kami suka maen bareng, namanya mainan jaman dulu, entah itu maen karet,engklek,gobag sodor atau main pasar2 an. Kak Faiz dan Mba Mayda,mereka berdua kakak senior saya,2 taun diatas saya. 2 manusia ini bertengkar terus setiap hari. Saling ejek,bahkan kelahi. Kak faiz itu jaman kecil mulutnya suka celometan,ngledek,usil..sedang mba mayda itu pemarah..tomboy kayak preman. Sampai sekitar SD pun perang ini berlanjut. Pernah Mba Mayda melempar bekalnya yang di bawa dari rumah dan di tumplek blek di kepala Kak Faiz. Jadilah kepala kak faiz di penuhi mie keriting sama saos sambal,sampai seragamnya kemerah2 an ga bisa di pake lg akibat kuah yg lengket.hihi..terus kak faiz pasti ga tinggal diam dong. Pas mba Mayda piket bersihin kelas kan biasanya disuruh ngepel tuh,kak faiz dengan tenangnya numplekin air pel2 an seember ke mba mayda..sampe mba mayda nangis basah kuyup. Pokoknya hebohlah mereka tengkarnya…bahkan seantero sekolah tau mulai dr tukang bakso,semua murid,ibu kantin bahkan guru2…sampai2 sebelum mereka ebtanas SD ,pak kepsek di depan peserta upacara senin ngasih wejangan khusus buat mereka berdua agar konsen ke ebtanas,ga ribut2 lagi. Di tempat ngaji pun begitu,sama saja…mereka bertengkar terus,sampai2 kak faiz dijuluki Abu Lahab,terus mba Mayda suka di pelesetin jd Maisaroh si Roh Bergentayangan….whoalahh,mereka sampai pernah dihukum pak ustadz sampe2 disuruh nulis sepapan ,eh bukannya rukun tp pulangnya mereka malah duel lagi gigit2 an tangan,sampai tangan mba Mayda berdarah2,begitu juga muka Kak Faiz karena habis di cakar2 mba mayda. Pas saya kelas 1 SMP kl ga salah,dan mereka kelas 3,kak Faiz pindah ke Padang karena bapaknya pindah tugas. Sedang kak Mayda tetap disini,tp pas lulus SMA mba Mayda pindah juga ke Jakarta…dan komunikasi pun sempat terhenti.Akhirnya sekitar 2 taun lalu kami berkomunikasi lagi, saya,mba mayda,kak Faiz,dan sahabat2 lain yang dulu rumahnya berdekatan…sekitar 8 orang awalnya ketemu lewat FB,akhirnya sms an,kadang telpan bareng2,chat bareng..atau BBM an..

Eh, Ternyata Ada ya Tradisi Jawa Seperti Itu

Budaya dan tradisi Jawa siapapun pasti sepakat kalau beraneka ragam. Saya paham kalau bahasa Jawa itu bertingkat-tingkat dan kapan harus menggunakannya, paham sedikit tentang tarian Jawa karena pernah jadi anak sanggar, tahu sedikit2 tentang gamelan, pernah di jelaskan beberapa sastra Jawa seperti kinanthi, wulangreh dan serat2 lainnya, tahu beberapa prosesi nikahan Jawa seperti pemasangan blaketepe, siraman, midodareni, temu penganten,  tapi kalau soal yang satu ini, saya sebagai orang Jawa asli malah baru tau.

 Jadi, waktu ada kunjungan resmi dari keluarga Mas Abi dari Yogya dan Jateng ke keluarga saya di Malang, tiba-tiba eyang dari mas mengkonfirmasikan lagi hari lahir kami sepaket sama pasarannya, alias weton gitu. Terus diitung-itung sebagai dasar penentuan hari baik menikah…nah lohhh??? saya ga paham. Ternyata setelah di itung gitu katanya hari lahir saya dan Mas ketemu 27, baik lah kalo jadi pasangan. Alhamdulillah, amiiin, meski saya dan mas agak2 percaya ga percaya gitu…masa hareeee gini..hihi :D

Kalau Bisa yang Seiman

Ya apalagi kalau bukan soal jodoh. Bagi yang belum mendapatkan pasangan, usahakan sebisa mungkin seiman. Bukan karena saya membawa-bawa masalah agama, tapi ini pengalaman sahabat saya.

 Ketika kuliah, 2 sahabat saya jadian. Mereka pasangan yang serasi, sama-sama pintar,aktif, pasangan cantik dan ganteng, pokoknya ideal. Selama ini perjalanan cinta mereka sepertinya landai saja, hampir 4 tahun bersama. Awalnya orang tua masing-masing agak tidak setuju, karena apalagi kalau bukan soal keyakinan. Tapi dengan usaha keras mereka akhirnya kedua keluarga sama-sama bisa menerima. Mereka ini pasangan yang kocak dan santai, setiap kali saya atau teman-teman yang lain tanya, mau nikah dimana? Jawaban mereka pasti…Hongkong, :D, sambil guyon. Kemudian saat saya sharing dengan si sahabat cewek, ‘’sudah dipikir baik-baik kah, nanti anak kalian seperti apa, namanya juga kalau arahnya serius, mau tak mau harus dipikirkan”, jawaban si cewek adalah, terserah anak-anak nanti, semua bebas memilih. Jujur, saya tanya begitu bukan karena saya usil. Saya tanya karena sebagai sahabat dekat ingin memastikan keseriusan dan kesiapan mereka sejauh apa.

Panggilan Sayang yang Aneh-Aneh (Jaman Sekarang)

Di lingkungan keluarga , saya merasa panggilan sayang orang-orang sekitar terhadap pasangannya itu normal saja. Kategori normal yang saya maksud adalah biasanya ibu memanggil bapak saya dengan Mas, atau Pak. Dan sebaliknya bapak memanggil ibu dengan Dek atau Bu. Dan sekarang, karena sudah punya cucu, jadi panggilan sayangnya berubah jadi Uti dan Kung. Maksudnya Bapak saya memanggil ibu dengan uti dan bapak dipanggil ibu dengan sebutan kakung kalo ada si Rere ponakan saya. Bagi saya, cara memanggil mereka itu ada aura nya, ada chemistry atau apalah..pokoknya ga sekedar manggil, ada kadar cintanya gitu dalam panggilan. Hehe, sok analisa saya.

 Sedangkan saya sendiri, rasanya juga bukan kategori neko-neko, memanggil Mas ke pasangan, dan Mas saya memanggil saya dek. Nah, kl lagi bercanda versi kebun binatang, saya suka menyebutnya ‘Jerapah’ dan saya di panggil ‘Bear’. Atau kalo lagi wall2 an di FB , saya memanggilnya ‘Mr. Right’ karena selalu benar, bijaksana dan bijaksini sedangkan saya ‘Miss Lola’ alias Loading Lambat…hwehe, Allah Maha adil ya, si pinter di jodohin sama yang Lola. Ga kebayang kalo Lola kayak saya terus dapat pria yang Lola pula..weleh, kaya cecep dong.

Saya Lebih Suka Solusi, Bukan Kambing Hitam

”Saya lebih suka solusi, bukan kambing hitam”. Kalimat itu adalah kalimat yang lumayan sering muncul dari atasan kami pada saat awal saya bekerja dulu. Biasanya jika ada meeting, dia akan marah jika antar departemen saling menyalahkan. Marketing merasa tidak bisa memenuhi sales order karena barang jadi stocknya tak mencukupi, intinya menyalahkan departemen produksi. Produksi menyalahkan PPIC karena penataan jadwal yang amburadul atau bisa saja menyalahkan teknik karena maintenance mesin tak maksimal. Nanti, PPIC menyalahkan purchasing karena stock bahan baku kurang makanya penjadwalan amburadul. Purchasing menyalahkan Finance karena sokongan keuangan yang tak maksimal. Dan ujung-ujungnya finance menyalahkan marketing lagi, uang ga bisa masuk karena penjualan tak mencapai target….begitu saja berputar seperti lingkaran setan. Salah menyalahkan, mungkin dengan menyalahkan orang lain merasa lega dan tanggung jawab lepas sekaligus berprestasi bak pahlawan, menunjukkan bahwa sesungguhnya bukan dirinya yang salah tapi orang lain. Apakah perusahaan butuh itu, tidak, jawabannya menyalahkan pihak lain tak membuat perusahaan lebih maju. Tapi semenjak sang CEO sering sekali mengutarakan kalimat seperti di awal tadi, salah menyalahkan ini tak pernah terjadi lagi. Yang ada adalah bersatu padu, kooperatif mencari solusi meski tetap saja disertai perang urat saraf, tapi ga apa-apa, toh untuk mencari jalan demi kebaikan perusahaan. Dan hasilnya, raport hijau keuangan yang membuat siapa saja menjadi tersenyum lebar.

Saat Bapak ditinggal Anaknya Berumah Tangga

Sebagian besar anak lebih dekat berhubungan dengan ibu daripada bapaknya.Begitu juga dengan saya. Karena secara intensitas, anak lebih banyak bersama ibu, sedang si Bapak sibuk di luar cari nafkah. Tapi secara kualitas kasih sayang bapak pasti ga kalah dengan ibu.

 Hari ini saiia lagi mellow ditelpon bapak saya. Pokoknya intinya beliau mengeluhkan eksistensi saya (bahasa apaan nih ya), intinya komplain lah, sy meski tiap hari telp tp kan ga bisa ketemu. “Beginilah kl anak sudah kerja dan menikah, mau tak mau waktu untuk ortu terkurangi”, begituh kt bapak sambil bcanda ala hahahaaaahaaa, tp saya ikutan miris.Ya ampun, orang tua itu sayangnya sama anak ga bisa di gambarin pake crayon ma spidol ya.

Pengikut

Kompasiana