Menekan Biaya Pernikahan

Terinspirasi dari tulisan Mbak saya yang cantik, kompasioner aktif nunjauh di negeri Arab sana, Mbak Moona F. Gaahtani tentang perbandingan menikah di rumah atau di gedung. Saya jadi ingin menulis juga tetek bengek dan umba rampe sebelum menikah.

Sebenarnya, saya adalah orang yang simple, tidak suka menguras energi memikirkan hal-hal yang di luar esensi. Lebih baik memikirkan dan merencanakan kualitas hidup setelah menikah. Apakah kita akan menjadi manusia yang lebih baik setelah itu? Mampukan mengemban amanah menjadi seorang istri? Dan apakah bisa menjadi ibu yang bertanggung jawab.

Menikah, pada dasarnya adalah proses memenuhi janji antara pria dan wanita untuk berkeluarga secara sah dan halal.

Jadi, hal terpenting dari pernikahan adalah akad nikah, tentu saja. Bagi saya pribadi alangkah enak dan nyamannya kalau setelah akad selesai. Titik. Tinggal fokus membangun rumah tangga.
Tetapi saya juga sadar tidak bisa egois begitu. Bagaimanapun pernikahan tak menjadi hajat kami saja, tapi juga orang tua dan mertua. Pernikahan tak cukup dengan akad nikah saja, tapi juga disertai sederetan tradisi dan resepsi. Apalagi saya dan mas sama-sama wong Jowo tulen, yang acara tradisinya jauh lebih banyak daripada acara inti.

Sejak awal kami memang commit tidak mau membebani orang tua dengan biaya pernikahan. Oleh karena itu, kami tidak segera menikah setelah lulus, perlu waktu hampir 2 tahun untuk mengencangkan ikat pinggang dan menabung biaya. Dan, ironis, tabungan itu hampir tidak jadi terpakai karena awal 2011 ini, hubungan kami berdua malah bermasalah dan sempat break. Tapi, Alhamdulillah setelah sama-sama punya kesadaran menyelesaikan konflik, keputusan mas adalah segera menikah saja. Dengan tabungan seadanya itu.

Dan benar sekali menurut orang - orang. Menikah jaman sekarang cukup memakan biaya. Uang yang dikumpulkan dari kerja keras tahunan itu rasanya semakin menipis dan menipis :D. Padahal, dalam prakteknya kami tak benar-benar mandiri 100 %. Orang tua dan calon mertua adalah para orang tua yang baik, yang tidak tega melepas kami begitu saja. Tetap saja kami dibantu dalam banyak hal, karena kalau ditolak, mereka justru tersinggung.

Padahal persiapan kami selama sebulan ini baru yang pokok-pokok saja, belum tetek bengek lainnya. Baru pesan gedung, undangan, baju, souvenir, catering , koordinator upacara jawa dan tata rias, dekorasi dan tata letak serta baju seragam keluarga besar. Hal-hal seperti hiburan dan lain-lain masih belum.
Saya berusaha mengandalkan jasa dari rekan, kenalan atau sahabat, supaya dapat yang kualitasnya tidak mengecewakan tapi harganya juga ga mahal. Sayangnya, tetep aja bagi saya mahal.hikshiks

Saya jadi ingat, tahun lalu di kantor saya ada kasus. Seorang pegawai yang terkenal loyal dan jujur terlibat penggelapan dana dan manipulasi data sehingga merugikan perusahaan. Usut punya usut, ternyata beliau melakukan itu untuk menikahkan putri tunggalnya yang masih semester 1, tapi karena satu dan lain hal harus segera dinikahkan. Akibatnya si bapak yang awalnya tak punya persiapan, rela melakukan penggelapan dana untuk membiayai pernikahan putrinya secara pantas. Kebetulan karena perusahaan tidak mau ribut, dan cukup menghargai kinerja karyawan selama ini, maka masalah cukup diselesaikan secara internal. Alhasil, si bapak itu harus menjual mobil mewahnya untuk mengganti dan harus rela turun jabatan.
Maka dari itu, calon mempelai usahakan merencakan sebaik mungkin. Jangan terlalu mendadak dan jangan membebani orang tua. Kasihan.

Demi memangkas biaya, kami sengaja tidak memakai WO, semuanya kami urus sendiri. Sebenarnya banyakan saya sih (bukan :kami ), karena kebetulan mas kerja di kota lain, meski akhir-akhir ini sering ngalahi ke Malang pas libur untuk membantu saya. Begitu juga bapak ibu saya malah baru dipindah ke kota lain dan meninggalkan saya mempersiapkan ini semua seorang diri di malang..hiks..hiks (alay yakk saya), dan keluarga mertua juga stay nya di Jateng. Jadi otomatis saya lah yang paling banyak capek :D, karena sudah diputuskan bersama, acaranya di Malang saja mengingat keluarga besar ortu di sini semua, begitu juga mertua pernah dinas dan lama jadi warga Jatim, jadi kerabatnya juga banyak yang di Jatim.

Saya yang pada dasarnya ga mau ribet, mau tak mau juga jadi capek tenaga dan korban waktu karena kesibukan baru ini. Jika dulu pulang kerja bisa tinggal tidur (karena saya seperti bayi, bisa tidur sorean dan ga bangun sampai pagi..hihi), sekarang ada saja yang diurusi. Meski, ya saya tetap meminta pendapat ini itu dengan mas dan orang tua, tapi orang tipe mas saya jawabannya akan selalu sama '' ya terserah adek deh, bagusnya yang mana, atau dirunding sama ibu'' whoalahh, wkwk. Ada ya cowok seapatis itu, bagi dia menikah itu persiapannya hanya mental, membaca buku pernikahan, buku membangun keluarga , buku menjadi orang tua yang baik (nyambung ga seh), dan menyokong alias sumber utama mencari biaya :p. Pokoknya tinggal duduk manis tau jadi.

Satu lagi, biaya yang saya pangkas adalah foto pra nikah, entah mengapa kami kok tidak tertarik melakukannya. Lebih baik memasang beberapa foto lucu saya dan mas sepanjang pacaran, bahkan beberapa foto masih pakai seragam SMP dan SMA, foto gila dan cupu abege labil , masih imut dan kelihatan lugu kalau dipasang.

Gedung, kami bukan memilih yang hotel berbintang, karena saya tak mau memaksakan diri dan mengada-adakan tapi malah menyusahkan diri sendiri setelah itu. Cukup memakai Dome salah satu universitas saja, biar dekat rumah, apalagi dapat harga khusus berkat pakde saya. Awalnya mau memakai Taman Krida, tapi ternyata karena ga ada diskon seperti Dome, harganya lebih mahal, dan space nya tidak seluas Dome. Meski konsekuensinya biaya dekorasi jadi agak melambung, yang penting tamu nyaman, tidak berdesakan kekurangan oksigen.

Catering, memilih yang masih ada hubungan kerabat. Undangan, pesan di tetangga mertua, karena harganya lebih murah ternyata. Souvenir, kebetulan sudah, pesan di kerabat juga. Untuk dekorasi dan tata letak, teman saya ada yang orang tua nya memiliki usaha ini. Jadi harganya harga miring semua, harga persaudaraan dan persahabatan. Sejauh ini yang makan biaya paling besar adalah catering, karena jumlah undangan dikali 3 dan dikali harga.

Untuk baju, Alhamdulillah meski pesan di designer, tapi ibu designer ini teman baik sekaligus tetangga ibu mertua . Jadi harganya diskon, dan itupun jatuhnya ke saya jadi gratis karena hadiah mertua. Meski sediskon-diskonnya dan segratis-gratisnya sebenarnya saya tetap saja ga rela. Habis 2 baju buat akad dan resepsi saja kok harganya ngalah-ngalahi setengah tahun gaji saya , so sad, eman-eman. Selain itu bikinnya lama banget, berbulan-bulan, perkembangannya saya hanya baru diukur saja. Hiks

Untuk baju akad pria harga nya juga dapat harga khusus. Jas untuk midodareni sudah jadi ,harga khusus pula. Baju resepsi mas ngirit, karena cukup memakai seragam.

Seragam keluarga besar pesan di saudara dengan harga persaudaraan, hihi. Pemandu upacara tradisi Jawa dan tata rias, lagi-lagi teman mertua saya. Dan hadiah juga dari mertua. Padahal sebenarnya saya ini ga suka didandani, apalagi dandanan tebal, ga malah kelihatan cakep tapi malah kayak bencong. huhuhu. *sigh

Saya juga tak melakukan perawatan pra nikah seperti pasangan-pasangan lain. Saya malas sekali dengan kegiatan seperti itu. Toh bagi saya perawatan ga perawatan kayaknya ga ngaruh banyak, ga bikin wajah saya jadi seperti Mba Dian Sastro..hehe. Apalagi saya tomboi dan ga suka buang waktu berlama-lama di salon, lebih baik tidur :p. Yang penting tetap jadi diri sendiri dan cantik hati . Toh , dari dulu saya juga sudah begini, pacar juga ga komplain dengan penampilan. Kalau cuma untuk cantik sehari demi tamu terus perawatannya mesti berbulan-bulan saya malas.

Pada intinya selama persiapan ini, kami adalah pasangan yang mengandalkan diskonan alias harga miring. Yang penting sesuai dengan budget kami, tidak mengada-adakan sesuatu yang jauh dari jangkauan. Tapi rasanya tetap saja, nikah itu tidak murah. Ya ikhlas saja, awal memulai babak baru dalam hidup dan sarana berbagi kebahagiaan serta silaturrahmi bersama keluarga besar dan kerabat .

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Kompasiana