Saya pernah berada dalam dilemma besar saat memutuskan bekerja kemana. Setelah 5 bulan kesana kemari tes dengan status pengangguran pencari kerja, akhirnya saya di terima di 2 perusahaan,di waktu bersamaan. Yap, saat saya di hubungi lolos tes ODP alias Officer Development Program di salah satu bank plat merah, setelah saya tes bertahap2, saya juga di nyatakan di terima sebagai anak MT alias management trainee di salah satu perusahaan swasta di Malang setelah tes bertahap2 pula .
Waktu itu di antara rasa syukur,jujur juga terselip kebingungan mau pilih yang mana. Memang ada kalanya rejeki itu di sertai pilihan. Mungkin Yang di atas hendak mengajari hambanya untuk mengambil keputusan, menunjukkan otoritas terhadap diri sendiri. Bahasa jawanya….Iki loh,pilihen dewe…
Di saat saya bingung menentukan pilihan, maka hal yang biasa sy lakukan adalah berdialog dengan ibu saya. Dan ,waktu itu ibu saya menyerahkan semua nya kepada saya. ”Dimanapun asal kamu bertanggung jawab, itu sudah cukup buat ibuk”. Wah,memang aura seorang ibu, mengatakan satu kalimat sudah bikin adem. Sedangkan bapak malah cm berkata ”ojo lali, nanti kl sudah dapat gaji buat sekolah lagi aja”…memang bapak sangat menginginkan anak2 nya sekolah kl bisa setinggi2 nya…dan tambahan dari embah putri saya”nduk, kerja itu sama saja, mau di BUMN,di swasta,jadi pegawai negeri..sing penting amanah, soal gaji,berapapun asal barokah”
Akhirnya, saya putuskan lah memilih sebagai anak MT. Pertimbangannya,karena ODP penempatan se Indonesia setelah lolos training dan trainingnya pun di Jakarta. Sedangkan MT penempatan kerjanya di Malang. Owalah..pikiran saya kok sempit, tidak berani melenggang jauh2 dr kota kelahiran. Sebenarnya bukan itu maksud saya. Ini lebih karena saya adalah anak satu2 nya yang tertinggal di rumah. kakak saya sudah hidup jauh dr rumah karena alasan tugas dan pekerjaan. Artinya, tanggung jawab menemani orang tua ada di pundak saya. Bukan berarti mau sok berbakti atau bagaimana..tentunya orang tua saya masih sehat walafiat, untuk urusan hidup tak akan mau membebani anak2 nya…bukan tanggung jawab ekonomi yang sy maksudkan….tapi saya suka teringat….Bagaimana ibu sekaligus bapak saya biasanya akan menunggu di teras rumah kalau saya kuliahnya belum pulang2, atau bagaimana mereka selalu menelpon saat saya KKN dulu…gimana sehat disana? Ada masalah?…
Itulah kasih orang tua yang sesungguhnya….dibalik pertanyaan yg disertai sedikit amarah kadang ”nandi ae,kuliah kok jam segini baru mulih,hp di pateni (kemana aja, kuliah kok jam segini br pulang,hp dimatikan)..sebenarnya dr situ bisa di lihat betapa ortu sangat menghawatirkan saya..
Maka saya pun berpikiran..sekarang saya lah yg punya tanggung jawab menemani orang tua. Sejujurnya, saya bukan anak yang talktive dan suka curhat dengan ortu, bukan anak yang rame. Biasanya kalau di rumah hanya diam,main game, nonton tv,baca2 buku atau ngenet. Tapi ibu biasanya akan comment kalau saya pergi agak lama misalnya saat KKN atau PKL…omahe sepi ga ada anak e…rumahnya sepi ga ada anak (saya)….itu artinya, kehadiran kita berarti untuk mereka,
Yap,atas dasar itulah saya memilih kerja di Malang saja,supaya tiap hari masih bisa pulang.
Alasan kedua, adalah karena saya sejujurnya belum tentu sanggup berjibaku kerja di ibukota . Saya belum tentu sanggup mengatasi kestresan terutama akibat macetnya. Mungkin kalau tempat kos dekat dengan tempat kerja tidak menjadi soal. Sedangkan jika jauh??apalagi tante saya sudah mewanti2…kalau kerja di Jkt di larang kos, km mesti tinggal sama tante…weleh2…bukti kecintaan tante kepada ponakannya. Tapi rumah tante saya itu di pinggiran kota…alamat saya mesti berangkat pagi2 buta agar sampai tepat waktu. Saya bukan orang yang anti ibukota, justru saya adalah penikmat kota Jakarta, tapi untuk sesekali saja saat liburan misalnya. Karena siapapun orangnya,pasti akan senang kalau kemana2 banyak Mall, kemana2 liat gedung tinggi2 menjulang,lihat2 gedung pemerintahan..apalagi orang kampung seperti saya…hihi…tapi kalo jd bagian dari warga ibukota…saya hanya teringat hal2 buruk saja yg pernah sy alami di sana…
Misalnya, saat mau kecopetan 2 kali di Plaza Semanggi dan MOI…tiba2 aja pencopet udah memasukkan tangannya di tas saya yg memang tas terbuka..atau pengalaman di palak sopir taksi…atau desak2 an di serobot orang sebelum masuk busway..Jadi sampai saat ini,belum pernah terpikir keinginan hidup di
Waktu itu di antara rasa syukur,jujur juga terselip kebingungan mau pilih yang mana. Memang ada kalanya rejeki itu di sertai pilihan. Mungkin Yang di atas hendak mengajari hambanya untuk mengambil keputusan, menunjukkan otoritas terhadap diri sendiri. Bahasa jawanya….Iki loh,pilihen dewe…
Di saat saya bingung menentukan pilihan, maka hal yang biasa sy lakukan adalah berdialog dengan ibu saya. Dan ,waktu itu ibu saya menyerahkan semua nya kepada saya. ”Dimanapun asal kamu bertanggung jawab, itu sudah cukup buat ibuk”. Wah,memang aura seorang ibu, mengatakan satu kalimat sudah bikin adem. Sedangkan bapak malah cm berkata ”ojo lali, nanti kl sudah dapat gaji buat sekolah lagi aja”…memang bapak sangat menginginkan anak2 nya sekolah kl bisa setinggi2 nya…dan tambahan dari embah putri saya”nduk, kerja itu sama saja, mau di BUMN,di swasta,jadi pegawai negeri..sing penting amanah, soal gaji,berapapun asal barokah”
Akhirnya, saya putuskan lah memilih sebagai anak MT. Pertimbangannya,karena ODP penempatan se Indonesia setelah lolos training dan trainingnya pun di Jakarta. Sedangkan MT penempatan kerjanya di Malang. Owalah..pikiran saya kok sempit, tidak berani melenggang jauh2 dr kota kelahiran. Sebenarnya bukan itu maksud saya. Ini lebih karena saya adalah anak satu2 nya yang tertinggal di rumah. kakak saya sudah hidup jauh dr rumah karena alasan tugas dan pekerjaan. Artinya, tanggung jawab menemani orang tua ada di pundak saya. Bukan berarti mau sok berbakti atau bagaimana..tentunya orang tua saya masih sehat walafiat, untuk urusan hidup tak akan mau membebani anak2 nya…bukan tanggung jawab ekonomi yang sy maksudkan….tapi saya suka teringat….Bagaimana ibu sekaligus bapak saya biasanya akan menunggu di teras rumah kalau saya kuliahnya belum pulang2, atau bagaimana mereka selalu menelpon saat saya KKN dulu…gimana sehat disana? Ada masalah?…
Itulah kasih orang tua yang sesungguhnya….dibalik pertanyaan yg disertai sedikit amarah kadang ”nandi ae,kuliah kok jam segini baru mulih,hp di pateni (kemana aja, kuliah kok jam segini br pulang,hp dimatikan)..sebenarnya dr situ bisa di lihat betapa ortu sangat menghawatirkan saya..
Maka saya pun berpikiran..sekarang saya lah yg punya tanggung jawab menemani orang tua. Sejujurnya, saya bukan anak yang talktive dan suka curhat dengan ortu, bukan anak yang rame. Biasanya kalau di rumah hanya diam,main game, nonton tv,baca2 buku atau ngenet. Tapi ibu biasanya akan comment kalau saya pergi agak lama misalnya saat KKN atau PKL…omahe sepi ga ada anak e…rumahnya sepi ga ada anak (saya)….itu artinya, kehadiran kita berarti untuk mereka,
Yap,atas dasar itulah saya memilih kerja di Malang saja,supaya tiap hari masih bisa pulang.
Alasan kedua, adalah karena saya sejujurnya belum tentu sanggup berjibaku kerja di ibukota . Saya belum tentu sanggup mengatasi kestresan terutama akibat macetnya. Mungkin kalau tempat kos dekat dengan tempat kerja tidak menjadi soal. Sedangkan jika jauh??apalagi tante saya sudah mewanti2…kalau kerja di Jkt di larang kos, km mesti tinggal sama tante…weleh2…bukti kecintaan tante kepada ponakannya. Tapi rumah tante saya itu di pinggiran kota…alamat saya mesti berangkat pagi2 buta agar sampai tepat waktu. Saya bukan orang yang anti ibukota, justru saya adalah penikmat kota Jakarta, tapi untuk sesekali saja saat liburan misalnya. Karena siapapun orangnya,pasti akan senang kalau kemana2 banyak Mall, kemana2 liat gedung tinggi2 menjulang,lihat2 gedung pemerintahan..apalagi orang kampung seperti saya…hihi…tapi kalo jd bagian dari warga ibukota…saya hanya teringat hal2 buruk saja yg pernah sy alami di sana…
Misalnya, saat mau kecopetan 2 kali di Plaza Semanggi dan MOI…tiba2 aja pencopet udah memasukkan tangannya di tas saya yg memang tas terbuka..atau pengalaman di palak sopir taksi…atau desak2 an di serobot orang sebelum masuk busway..Jadi sampai saat ini,belum pernah terpikir keinginan hidup di
0 komentar:
Posting Komentar