Eh, Ternyata Ada ya Tradisi Jawa Seperti Itu

Budaya dan tradisi Jawa siapapun pasti sepakat kalau beraneka ragam. Saya paham kalau bahasa Jawa itu bertingkat-tingkat dan kapan harus menggunakannya, paham sedikit tentang tarian Jawa karena pernah jadi anak sanggar, tahu sedikit2 tentang gamelan, pernah di jelaskan beberapa sastra Jawa seperti kinanthi, wulangreh dan serat2 lainnya, tahu beberapa prosesi nikahan Jawa seperti pemasangan blaketepe, siraman, midodareni, temu penganten,  tapi kalau soal yang satu ini, saya sebagai orang Jawa asli malah baru tau.

 Jadi, waktu ada kunjungan resmi dari keluarga Mas Abi dari Yogya dan Jateng ke keluarga saya di Malang, tiba-tiba eyang dari mas mengkonfirmasikan lagi hari lahir kami sepaket sama pasarannya, alias weton gitu. Terus diitung-itung sebagai dasar penentuan hari baik menikah…nah lohhh??? saya ga paham. Ternyata setelah di itung gitu katanya hari lahir saya dan Mas ketemu 27, baik lah kalo jadi pasangan. Alhamdulillah, amiiin, meski saya dan mas agak2 percaya ga percaya gitu…masa hareeee gini..hihi :D


 Terus pakde tertua di keluarga saya juga sepakat dengan hitung-menghitung begitu, katanya kalau ketemu nya itu 24 atau 25 lebih baik ga di lanjut..whatttttt??maksudnya..hehe, makin binun.com tambah ga mudeng. Dulu, pakde saya pernah ga direstui nikah sama Mbah Kung dengan mantan pacarnya  gara2 itungannya ketemu 25 gitu katanya, dan 3 hari berdua….so sad…

 jadi ada pantangan lagi…selain ketemu 24, atau 25..juga ada lagi istilah 3 hari berdua atau 5 hari berdua…*garuk2 kepala bingung*, maksudnya meski selisih umurnya beberapa tahun, tapi kalau selisih hari lahir plus pasarannya antara si cowok dan cewek itu 3 atau 5 hari…maka juga di larang. Sebenarnya kalau mau di terusin sih jg a apa2, tergantung orangnya, tapi banyak syaratnya begonoooo…

 Oh iya, dari itung2 an antara saya dan Mas tadi..akhirnya sang Eyang sudah menemukan hari baik plus jam menikahnya sekalian….hihi,

 Kalau kami di terangkan semuanya, meski dalam hati agak ga percaya tapi hanya bisa manggut2 inggih - inggih ora kepanggih… masa iya mau mendebat para tetua….Karena niat kami memang baik, kalau toh berdasarkan itungan bagus, ya bersyukur Alhamdulillah saja..bukankah jodoh itu di tangan Yang Kuasa

 Tiba-tiba aja mas saya nyeletuk…sapa yakkkk yang dulu bikin rumus-rumus itungan begituan…kayaknya kalau bakatnya di pupuk bisa2 ngalahin Sir Issac Newton, Phytagoras, atau malah Albert Einsteinn :D, dan jawaban pakde “sekalian aja  , kamu belajar ngitung hari baik, biar suatu saat kalau jadi komandan perang bisa ngitung…kapan jam baik nya menyerang sekaligus ke arah mana serangannya….”

 Tapi ya memang itu lah kekayaan tradisi Jawa, kalau ga salah dalam salah satu novel Arswendo Atmowiloto, di jabarkan bahwa ya itulah uniknya wong Jowo, banyak hal yang kadang di rasa ga masuk akal, tapi kembali ke kita masing-masing, mau di apakan. Kalau kami, ya menerima itu semua sebagai bagian dari tradisi, bagian dari kekayaan leluhur.

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Kompasiana