Uneg-uneg jadi Orang Jawa

Dalam hal ini, saya mengambil contoh fenomena budaya jawa, bukan bermaksud kesukuan, tapi saya ambil contoh lingkungan di mana saya tinggal. Yaitu di kota batu jawa timur.

Dekat saja, di lingkungan tempat tinggal saya merasa apresiasi masyarakat terhadap budaya jawa sudah mulai luntur. Apakah ini pengaruh dari globalisasi, mungkin salah satunya iya.

Terhadap anak - anak kecil, orang tua sudah jarang berbahasa Jawa, tapi Indonesia, atau malah bahasa Inggris. Mungkin karena mereka menganggap berbahasa Indonesia terkesan lebih terhormat begitu daripada berbahasa Jawa. Orang tua juga sibuk mengajari atau mengkursuskan anaknya bahasa asing sejak dini, bisa bahasa Inggris, Jepang atau malah Mandarin dan Jerman.

Bila di tempat saya ada pelajaran muatan lokal yang dinamakan Bahasa Daerah,maka nilai raport di matpel itu akan di lihat belakangan. Menunjukkan betapa kurang pentingnya muatan lokal ini di mata mereka.


Untuk orang -orang generasi saya saja ,sudah banyak di antara kami yang tidak bisa membedakan silsilah yang mana bahasa krama inggil,krama madya atau ngoko dan bingung kepada siapa saja kami harus menggunakan itu. Di salah satu TV lokal, acara dansa nya berdurasi lebih lama daripada acara daerah seperti campur sari atau guyonan ala jawa timur. Anak - anak sekarang lebih kenal Harry Potter daripada cerita pewayangan atau babad tanah jawi. Mereka lebih kenal nyanyian Justin Bieber daripada ilir -ilir atau tembang macapat. Lebih mengenal sejarah berdirinya tembok china karena untuk pertahanan terhadap suku bar bar daripada sejarah keraton Yogyakarta atau keraton Solo. Tentu saja tidak buruk untuk mengenal peradaban dunia, tapi hendaknya sejarah daerah sendiri juga tidak dilupakan.

Sebenarnya sangat disayangkan sekali fenomena seperti ini terjadi, karena siapa lagi yang akan melestarikan budaya ini kalo bukan kita sendiri. Bukankan salah satu pemicu munculnya Bhineka Tunggal Ika itu karena keragaman budaya seperti ini, kalo budaya sudah seragam kan ga ada yang namanya bhineka. Bukankah ini ciri khas, keragaman budaya kan bukan pemecah tapi malah memperkaya Indonesia.

Kita sering heboh dan marah kalo budaya kita sudah di klaim negara lain. Oleh karena itu marilah kita kembali ke akar budaya kita, sambil juga belajar budaya dunia. Jangan pernah kita lupa akan kekayaan budaya sendiri.

Saudara-saudara kita yang di Suriname saja melestarikan. Bagaimana mereka begitu menghargai bahasa jawa,sekalipun sebagian besar mereka tidak pernah menginjak tanah jawa karena sudah lahir dan besar di sana. Karena mereka paham, Jawa adalah asal muasal mereka. Di salah satu acara TV, dapat kita lihat bahwa warga suriname terutama yang berasal dari Jawa masih sangat menjunjung budaya Jawa, entah itu melestarikan ludruk (drama jawa timur an),kuda lumping, reog, campur sari,dan beberapa menteri mereka yang keturunan Indonesia masih lancar dan fasih berbahasa Jawa sesuai etika. Padahal di negara mereka, beragam asal penduduknya , di sana orang jawa juga bukan mayoritas, tentu budaya dari banyak negara sangat mungkin membuat mereka lupa budaya asal. Tapi ternyata mereka, saudara - saudara yang berasal dari negara kita mampu mempertahankannya, tentunya jika kita mau, disini , di Indonesia lebih mudah untuk mempertahankan.

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Kompasiana