
- Pinjeman sana sini
Sebenarnya dulu awal gabung kompasiana saya sudah pernah posting tentang Umar Kayam, tapi ga tau postingan itu ilang kemana. Saya tau diri, sebenarnya ga kompeten untuk mengomentari karya sastrawan sebesar Umar Kayam. Tapi gpp deh, pingin nulis. Soalnya Umar Kayam (alm) adalah penulis favorit saya nomer satu.., selain Remy Silado, Andrea Hiratta, A. Fuadi dan Arswendo Atmowiloto. Biar saya buta sastra, tp setidaknya saya menikmati novel2 beliu2 yg mengagumkan itu. Saking sukanya dengan Umar Kayam bahkan saya senang sekali kalau jalan2 di Bulaksumur Jogya karena markas Umar Kayam disana (alaaaayyy banget yakkk :p, tapi bener).
Hampir semua karya Umar Kayam saya sukai, Sri Sumarah, Seribu Kunang2 di Manhattan, Para Priyayi 1 dan jalan menikung alias Para Priyayi 2 dan catatan tentang Pak Ageng nya di kolom mingguan di "Kedaulatan Rakjat" yang kemudian di bukukan dengan tajuk Mangan ora Mangan Kumpul dan Satrio Piningit ing Kampung Pingit kl ga salah.
Ini buku2 beberapa nemu di rumah Eyang Kakung di Solo sono pas saya masih SMA kelas 2 dulu, sekitar 2004 . Saya pinjem deh. Awalnya di tagih2 terus sama eyang saya yg biar sepuh tetep tau kl ada bukunya yg kurang, tapi berhubung akhirnya beliau menyadari kl saya ga berinisiatip mengembalikan, sok lupa mengembalikan, dan memang saya ga rela balikin (ati2 kl minjemi saya barang..wkwk) akhirnya dihibahkan dengan sedikit terpaksa dan tidak rela. hihi. I lap you dah Yangkung. Yang sepuh yang mengalah , yang tua pasti bijak.
Sett dah, ga terasa ya, tuh buku sdh 7 taun saya pinjem. (jadi curcol).
Yang paling saya suka adalah Para Priyayi. Entah berapa kali baca, tapi tetep blum bosan. Sama dengan karya UK lainnya, Para Priyayi kental dengan humaniora Jawa, dan bersetting jaman penjajahan Belanda, Jepang hingga Kejadian 65. Bukannya saya kesukuan, tp berhubung saya jg wong jowo, makanya sedikit nyambung dengan humor cerdas dan istilah2 bahasa Jawa yg banyak dipakai sepanjang novel ini .
Para Priyayi ini novel yang disusun dengan bantuan Yale University, penyusunannya full dilakukan di USA hampir 2 taun, aneh ya, novel Indonesia malah banyak unsur Jawanya begini disusun jaoh2 disana..wkakak *rumpi*.
Dikisahkan, Sastro Darsono, anak seorang petani yang berjuang menapaki tangga priyayi dengan menjadi seorang guru bantu hingga akhirnya menjadi guru dan Kepala Sekolah. Bagi orang Jawa jaman dulu, tangga priyayi itu penting karena meningkatkan derajad di masyarakat. Ya mungkin sama seperti sekarang, dimana abdi negara semacam PNS, pegawai BUMN, itu masih menjadi posisi yang dikejar2. Sastro Darsono kemudian membagun dinasti Priyayinya sendiri. Semua anaknya pun sukses mengikuti, Nugroho yg awalnya menjadi guru HIS kemudian ikut PETA dan menjadi Perwira TNI , Hardojo abdi Mangkunegaran dan menantunya Harjono yg kl jaman sekrang istilahnya Deputy kementrian gt deh.
Tapi priyayi yang dikisahkan disini tak sekedar itu. Priyayi adalah orang yang dapat di teladani sekitar dan keluarganya, priyayi adalah orang yang peduli terhadap keluarga besarnya. Seperti dicontohkan, bagaimana Sastro darsono merawat keponakan2nya yang tidak mampu. Misalnya Sunandar. Sunandar diberi pendidikan yang sama dengan anak2 Sastro sendiri, meski kemudian dia tidak berhasil sama sekali dan justru bergabung dengan gerombolan rampok. Tapi siapa sangka dari Sunandarlah, seorang priyayi tulen, penyelamat keluarga besar Sastro Darsono di lahirkan.
Lantip namanya, putera Sunandar hasil menghamili gadis desa yang kemudian ngikut di ndalem Setenan (rumah Sastro) banyak berperan di novel ini. Dia lah yang menunjukkan jati diri sebagai priyayi sejati. Di masa dewasanya, Lantip sukses menjadi dosen, dan membantu menyelamatkan nama baik keluarga besar Sastrodarsono akibat ulah cucu2nya, mulai dari Marie yang hamil di luar nikah hingga Harimurti yang tersangkut G-30 S PKI.
Yang kedua, priyayi harus senantiasa 'ngelmu lewat laku', yaitu terus belajar dan belajar dengan sungguh2, usaha keras supaya makin berguna bagi masyarakat banyak.
Dan meningkatkan kepekaan bathin. Hal ini di gambarkan kayyam dengan Serat Wedhatama Karangan Kanjeng Gusti Mangkunegara IV dan Serat Wulangreh karangan Sinuwun Paku Buwana IV.
Yang ketiga, priyayi itu harus setia dan rela berkorban kepada negara, kesetiaan yang tak tanggung - tanggung,bahkan kesetiaannya digambarkan kayam,salah satunya seperti kesetiaan Karna kepada Kurawa. Karna adalah kakak dari Pandawa beda ayah, anak haram batara surya dengan Kunti, sejak kecil dia di buang dan di besarkan oleh kusir kerajaan Ngastina , kerajaan para Kurawa. Pada saat perang Baratayuda, ibunya membujuk agar dia di pihak Pandawa, tapi dia tidak mau.Menurut dia, satria yang baik mestilah tau balas budi, setia terhadap raja dan negara nya, meskipun pada akhirnya dia gugur kena panah adiknya sendiri, Arjuna.
Tentunya dalam buku ini tidak digambarkan bahwa priyayi itu sikapnya sempurna dan tanpa cela, tentu ada skandal2 yang mengikutinya layaknya manusia biasa, tapi yang jelas buku ini sangat mengena di saya.
Dan sepertinya boleh juga sebagai tambahan bacaan para aparat negara,siapa tau dapat mengembalikan segelintir atau banyak gelintir aparat yang awalnya agak melenceng menjadi lebih lurus. Amiin Ya Rabb..(serius).
Maap yakk postingannya kepanjangan...saya memang rada hebring kl bahas karya Umar Kayam...gimana lg, suka sihhh...hihihihi
0 komentar:
Posting Komentar