Perlukah Menilai dan Menakar Manusia Lain sebagai Makhluk Sosial?

Kita sebagai manusia seringsekali mengklasifikasikan manusia lain berdasarkan harkat, pangkat, derajat , pendidikan dan tolak ukur lainnya. Apakah hal itu wajar? Menurut saya itu manusiawi, bawaan manusia dari sananya, suka menilai, menimbang, dan menakar .

Saya pun begitu, setiap mau berbicara dengan orang lain, otomatis saya menakar tingkat pendidikannya, ..dengan maksud supaya bicaranya bisa nyambung, ngena dan komunikatif satu sama lain.

Tapi sesungguhnya apa itu pantas di lakukan manusia terhadap manusia lainya?

Hari ini, dalam perjalanan menuju kantor, tiba2 saya tersadar melalui banyak hal yang saya lihat, apa hak saya untuk mengklasifikasikan seperti itu, kadang klasifikasi itu malah menuju arah penggolongan manusia penting atau tak penting berdasarkan prestise pekerjaannya…semua manusia saling melengkapi


· Orang tua siswa SD yang mengantar anaknya sekolah dengan mobil, yang saya asumsikan orang kantoran karena tidak sempat menyebrangkan anaknya karena harus buru – buru ngantor, tidak lebih penting dari pemuda 20 tahun-an yang membawa peluit , yang tugasnya menyebrangkan anak kecil, anak dari para orang tua yang sibuk itu. Mungkin ini terlihat sepele, tapi apa jadinya jika tidak ada orang semacam pemuda berpeluit ini yang membantu menyebrangkan anak sekolah saat lalu lintas ramai dan padat? dia pun sama pentingnya, karena melindungi generasi penerus dari kecelakaan dan semacamnya. Bukankah artinya dia menjaga kelangsungan peradaban manusia??

· Direktur kantor saya misalnya, tidak lebih penting daripada office boy. Apa jadinya jika tidak ada Pak OB, siapa yang akan membersihkan kantor, menyiapkan minuman, dan disuruh membeli makanan ini itu. Apa perusahaan bisa berjalan lancar jika direktur dan jajaran staff nya pada menahan haus, lapar dan bekerja di tempat yang kotor dan tidak rapi, apakah dengan keadaan seperti itu dapat muncul ide-ide brilliant?muncul omzet miliaran bahkan puluhan miliar? Bukankah artinya OB juga menjaga system operasional dan kenyamanan kerja, yang ujungnya meningkatkan kinerja dan juga omzet????

· Seorang guru tidak lebih penting dari penambal ban??

Ya, tentu, apa jadinya jika tidak ada penambal ban saat bapak guru tiba-tiba ban kendaraannya bocor, bagaimana nasib para siswa yang akan di ajarnya jika pak guru terlambat bahkan absen karena harus menambal sendiri. Bukankah “ alah isa karena biasa”, pak guru yang terbiasa pegang spidol tentunya butuh waktu lebih lama jika harus menambal ban sendiri daripada tukang ban.

Jadi setiap manusia di muka bumi ini penting, dan saling melengkapi, pantaskah jika kita sebagai manusia menilai dan menakar manusia lain??

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Kompasiana